Cari Blog Ini

Jumat, 24 Juni 2011

Muslimat NU London, Prihatinkan TKW di Saudi

LONDON, SPN – Muslimat Nahdlatul Ulama di Inggeris sangat prihatin terhadap nasib tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Arab Saudi, apalagi dengan adanya kasus yang menimpa Ruyati yang harus mengorbankan nyawanya untuk menghidupi keluarganya.Keprihatinan itu disampaikan Ketua Muslimat NU di Inggeris , Afrahul Fadhilah Ibrahim kepada Antara London, Jumat , sehubungan dengan dijatuhkannya hukuman pancung terhadap tenaga kerja wanita Ruyati di Arab baru pada hari Sabtu( 18/6).
Kejadian yang menimpa Ruyati, sangat memprihatinkan bangsa Indonesia, ujar istri D Effendi yang sempat bekerja menjadi dosen agama Islam di Politeknik Universitas Sumatra Utara selama tiga tahun sebelum mendapat tugas ke Inggris.
Menurut Bu Fadhilah , demikian Afrahul Fadhilah Ibrahim disapa, kejadian itu mungkin hanya sebahagian kecil saja dari yang dialami dan dirasakan TKW lain yang bekerja di Arab Saudi.
Menurut Fadhilah yang pernah masuk Pesantren Purba Baru di Tapanuli Selatan Sumatra Utara, yang menempanya menjadi seorang juru dakwah, mungkin masih banyak lagi TKW yang bernasib demikian yang diperlakukan kasar oleh majikannya di Arab. Dikatakannya, berbeda dengan di Inggris TKW itu sangat dihargai dan hormati, di Inggris yang jelas-jelas bukan negara muslim, tetapi mereka sangat menghormati TKW.
Bahkan di Inggris, TKW itu mendapat libur satu atau satu setengah hari dalam seminggu . Ada juga yang kerja hanya lima hari seminggu, ujar ibu tiga putri yang berangkat dewasa dan bahkan ada yang lulus dokter.
TKW dipanggil darling Menurut Fadhilah yang aktif di Mesjid Besar London seringkali majikan bertanya kepada dari TKW “are you all right(kamu baik-baik saja kan,, red)”. Hampir sering keluar pertanyaan dari majikannya ”r u ok” kadang2 sampai memanggil pembantu dengan sebutan darling (sayang) .
Tetapi sebaliknya TKW yang bekerja di Arab , boro-boro kalimat “ddarling” malahan sering dipanggil baqarah (lembu). Subhanallah, ujar Fadhilah yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Islam Negeri Sumatra Utara dengan mengambil jurusan Syariah pada 1987. Apalagi sampai ada yang bertanya ”r u ok”(kamu sehat kan, red) kalau mereka bisa mau bekerja selama 24 jam terus- menerus.
Tampak sekali perbedaan yang begitu jauh perlakuan tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai TKW di Inggris dengan di Arab Saudi. Begitupun dalam hal gaji, kadang-kadang sampai lima bulan tidak terima gaji kerja di Arab. Sedangkan di Inggris mereka menerima gaji setiap minggu dengan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Arab Saudi.
Rumah Fadhilah yang berlokasi di daerah Colindale juga menjadi tempat berbagi bagi anak-anak dan tenaga kerja domestik asal Indonesia yang jumlahnya puluhan bahkan mencapai ratusan di Inggris, baik yang menghadapi masalah maupun hanya sekedar bercerita dan berbuka puasa bersama.
Bahkan di rumahnya pernah diadakan pesta pernikahan seorang pekerja domestik wanita dengan sang kekasihnya dari negara lain. Rumah kontrakannya itu terbuka bagi siapa pun dan selalu disambut dengan hangat.
Berdasarkan pengamatannya ,ia bertanya masihkah Pemerintah Indonesia akan mengirim TKI ke Arab . Rasa sebaiknya menjalin hubungan dengan negara lain yang banyak membutuhkan pembantu termasuk Inggris, Jerman, Paris dan Negara Eropa lainnya. (ant )

Kisah Rosita yang Lolos dari Hukuman Pancung


JAKARTA, KOMPAS.com — Rosita Siti Saadah (29), seorang tenaga kerja wanita asal  Indonesia, yang berhasil lolos dari ancaman hukuman pancung di Persatuan Emirat Arab (PEA), kini bernapas lega. Setelah 20 bulan ditahan di Fujariah, seorang petugas kepolisian membebaskan dan memberikannya tiket pesawat untuk kembali ke Tanah Air. Rosita lantas menggunakan tiket tersebut untuk pulang dan tiba di Indonesia pada 12 Juni 2011. Padahal, saat itu proses pengadilan terhadap kasus persekongkolan pembunuhan yang menjerat Rosita belum sampai pada vonis hakim. Rosita dituduh melakukan persekongkolan untuk membunuh rekannya, sesama pembantu rumah tangga asal Indonesia yang sama-sama bekerja pada Yaser Hasan Mohamed Saif Al Abd.
Dia juga dituduh berpacaran dengan anak majikannya yang bernama Abdalla. Kisah ini dituturkan Rosita kepada para pewarta dalam sebuah diskusi di Kantor Solidaritas Perempuan, Jakarta, Kamis (23/6/2011).
Rosita mengungkapkan, kisah berawal saat Rosita dituduh membunuh rekannya. Padahal,  dia tidak melakukan perbuatan tersebut. "Yang membunuh itu sebenarnya anak laki-laki majikan saya sama dua temannya," kata Rosita.
Peristiwa pembunuhan itu terjadi sekitar 15 Oktober 2009 atau setelah empat bulan dia bekerja pada Yaser. Pada malam itu, kata Rosita, masuk tiga orang laki-laki ke kamar para pembantu rumah tangga. Seorang lelaki mematikan lampu kemudian mendekap Rosita dan rekannya. Lelaki yang mendekap Rosita mengancam akan membunuhnya jika dia berteriak.
"Saya diam saja, tidak lama mereka pergi," katanya.
Setelah para lelaki itu pergi, Rosita lantas membangunkan rekannya yang tampak tertidur. Namun, rekannya itu tidak juga bangun. Rosita mengira rekannya itu telah dibunuh. Ia lantas berteriak memanggil majikannya.
"Baba, Madam, tolong, saya takut," kata Rosita, mengisahkan kejadian yang dialaminya.
Alih-alih bertanya kepada Rosita, majikannya justru memanggil polisi yang kemudian menggiring Rosita ke dalam tahanan. "Di (kantor) polisi saya ditahan, dipukuli, disuruh mengaku, tapi saya tidak mengaku, tidak boleh istirahat. Selama lima hari enggak boleh tidur," ucap ibu beranak satu itu.
Terus didesak, lanjutnya, Rosita akhirnya mengaku telah berpacaran dengan anak majikan yang telah membunuh rekannya itu. Ia mengungkapkan hal itu dengan harapan polisi turut menyeret anak majikannya itu ke penjara.
"Akhirnya dia (anak majikannya) diperiksa. Dia mengaku bunuh," ujar Rosita.
Meski demikian, pengadilan tetap menuduh Rosita bersekongkol melakukan pembunuhan dan melakukan perbuatan zina dengan berpacaran. "Saya kena tuduhan boyfriend, punya pacar," ujarnya.
Setelah sepuluh bulan mendekam dalam tahanan, lanjut Rosita, akhirnya dia menjalani persidangan. Selama tiga kali disidang, Rosita mengaku tidak didampingi siapa pun, termasuk bantuan hukum dari KBRI. Bantuan hukum dari KBRI baru datang pada sidang keempatnya.
"Karena saya belum paham bahasa Arab, saya minta penerjemah dan pengacara," kata Rosita.
Akhirnya, pada Mei 2011 vonis terhadap Rosita dibacakan. Ia dinilai terbukti berpacaran dengan anak majikannya sehingga harus menjalani hukuman enam bulan penjara. Namun, putusan atas tuduhan persekongkolan pembunuhan yang juga dituduhkan kepada Rosita, belum jelas.
"Kalau yang pembunuhan belum ada putusan. Tanggal 14 Juni harusnya masih ada sidang, tapi Rosita sudah di Indonesia," ujar Staf Penanganan Kasus Buruh Migran Solidaritas Perempuan, Vicky Sylvanie, yang mendampingi Rosita.
Pembebasan Rosita tanpa alasan. Demikian pula dengan status hukum Rosita saat ini. "Semua serba tidak jelas karena memang enggak ada berita resminya. Yang pasti tanggal 12 Juni dia sampai di Indonesia," ujar Vicky.
Kendati demikian, Rosita merasa bersyukur bisa kembali berkumpul dengan anak dan suaminya di Karawang. Dia tidak ingin kembali ke Emirat Arab jika suatu hari diminta untuk menjalani proses persidangan lagi.
"Kalau Rosita dimintai saksi meringankan maupun memberatkan, jelas kami menolak," ujar Vicky.
Hanya saja, Vicky berharap agar Pemerintah Emirat Arab menerangkan status hukum Rosita melalui Kementerian Luar Negeri. "Kita menuntut hak Rosita untuk mengetahui status hukumnya," ucap Vicky.
Ia menambahkan, merupakan suatu keanehan karena pihak KBRI tidak mengetahui bahwa Rosita telah kembali ke Tanah Air. "Tanggal 14 Juni kami ke Kemenlu, orang Kemenlu-nya menelepon Konjen di sana, Konjen-nya bilang, Rosita masih di Emirat Arab, padahal ini sudah sampai ke sini," tutur Vicky.
Becermin dari kisah Rosita tersebut, Vicky berharap agar pemerintah, terutama KBRI, lebih memerhatikan nasib warga negaranya yang menjadi buruh migran itu. Kisah Rosita juga memperlihatkan buruknya koordinasi Pemerintah Indonesia dengan Persatuan Emirat Arab.
"Untung enggak tahu dia (Rosita) pulang. Kalau enggak, dia dipancung," kata Vicky.

Dapur Raksasa, 90.000 Hidangan Sehari


Ini sebuah dapur! Dapur yang setiap hari harus menyediakan 90.000 hidangan. Kapasitas dapur ini didesain mencapai 115.000 hidangan setiap harinya. Di dapur ini, para juru masak mampu membuat makanan dari berbagai negara di dunia. Luas dapur ini lebih dari 5 hektar.
Mereka bisa mengerjakan dari mencuci piring hingga menyiapkan makanan untuk kelas eksekutif. Sebanyak 25.000 staf bekerja di tempat ini.
Kunjungan ke dapur ini berawal dari permintaan Kompas kepada Emirates yang mengundang media untuk melihat fasilitas perusahaan penerbangan itu. Permintaan ini muncul karena saat ini Emirates merupakan perusahaan penerbangan terbesar. Setidaknya dengan jumlah total pesawat 155 buah, sebanyak 15 pesawat bertipe Airbus A 380, perusahaan ini merupakan perusahaan terbesar saat ini. Maskapai di bawah Emirates hanya memiliki 108 pesawat dengan 12 pesawat Airbus A 380.
Oleh karena itu, sulit membayangkan bagaimana perusahaan ini menyiapkan makanan untuk para penumpangnya. Makin sulit dibayangkan cara menyiapkan menu karena saat ini Emirates melayani 112 tujuan di 66 negara, yang masing-masing tujuan memiliki penumpang dengan kultur dan kepercayaan berbeda-beda.
Gayung bersambut ketika Emirates menyetujui permintaan itu. Manajer Komunikasi Emirates Matt Howard mengantar Kompas mengunjungi dapur yang bernama Emirates Flight Catering yang tak jauh dari Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab. Sejak memasuki fasilitas katering itu, petugas keamanan mengecek mobil dan orang yang masuk. Pagar yang tinggi mengelilingi bangunan itu makin memperlihatkan fasilitas ini sangat vital.
Ketika hendak memasuki bangunan utama, petugas meminta identitas tamu. Tak hanya itu, petugas juga memberi daftar pertanyaan yang harus diisi oleh tamu. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah mengenai penyakit yang tengah diderita tamu, seperti hepatitis, influenza, diare, dan lain-lain. Jika petugas menganggap isian tamu mencukupi, ia akan mempersilakan tamu untuk memasuki pemindai logam. Saat kami hendak dipindai, seseorang mendekati kami.
”Selamat datang di tempat kami. Kami senang Anda mau melihat fasilitas kami,” kata Senior Vice President Emirates Flight Catering Company Duncan Davis menyambut kedatangan kami. Tak hanya kami yang dipindai, bos katering ini juga dipindai.
Davis langsung mengajak kami berkeliling melihat fasilitas dapur. Pertama kali ia mengajak kami ke fasilitas penerimaan bahan mentah dan bahan jadi. Bahan apa pun, mulai dari sayur, daging, daun pisang, hingga minuman ringan, diperiksa dengan pemindai. Sejumlah uji juga dilakukan untuk memastikan bahwa bahan mentah itu tak berbahaya.
Setelah itu, Davis mengajak ke fasilitas penanganan sampah yang dikirim dari troli atau gerobak tempat penyimpanan makanan yang biasa digunakan di pesawat. Jika Anda naik pesawat, pramugari biasa mengambil nampan berisi makanan dari gerobak ini. Jika selesai makan, apa pun yang ada di nampan langsung dimasukkan ke gerobak itu.
Penanganan sampah
Gerobak dari pesawat langsung dimasukkan ke ruang penanganan sampah. Di tempat ini, sampah organik langsung dibuang, sampah anorganik dipilah dan didaur ulang, sementara alat-alat makan, seperti piring, gelas, sendok, dan lain-lain, dikumpulkan. Gerobak juga dikumpulkan. Semua alat itu kemudian dikirim ke alat pencucian. Jumlah dan tingkat kebersihan alat-alat makanan dan minuman itu dikendalikan. Dalam sehari, jumlah alat ini mencapai dua juta.
Sampailah kami ke fasilitas pembuatan makanan. Apabila pencucian dan pemeriksaan bahan mentah mengandalkan mesin, dalam penyiapan makanan sentuhan tangan manusia diperlukan. Makanan seperti makanan pembuka harus ditata dengan teliti sampai urusan hiasan juga rapi. Hal yang menarik adalah masih digunakannya daun pisang sebagai alas makanan untuk penerbangan ke India.
”Kami tetap ingin memberi sentuhan lokal,” kata Davis. Ia pun menambahkan, daun pisang diimpor dari India dan telah dibersihkan sehingga dipastikan aman untuk penumpang pesawat.
Mengenai asal-usul makanan, dalam satu piring bisa terdapat berbagai bahan makanan yang asal-usulnya dari berbagai belahan dunia. Saat itu, Davis mencontohkan sepiring buah yang digunakan untuk makanan penutup yang terdiri dari buah kiwi dari Selandia Baru, nanas dari India, pisang dari Filipina, dan semangka dari salah satu negara di Amerika Latin.
”Semua bahan makanan terpaksa diimpor. Mungkin hanya kurma yang dari sini,” kata Davis sambil tersenyum.
Semua makanan, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup, hingga minuman, dibuat oleh masing-masing bagian. Makanan utama secara umum terdiri dari makanan China, makanan Arab, makanan kontinental (Eropa dan Amerika Serikat), Jepang, dan Asia subkontinetal. Meski demikian, ada juga makanan dari Korea Selatan dan beberapa negara lain.
”Kami bertugas untuk makanan-makanan Arab. Kami harus memastikan seluruh makanan dibuat dengan benar. Ini berarti makanan harus aman, higienis, dan berkualitas tinggi,” kata Executive Sous Chef Said El Alam yang khusus mengawasi produksi makanan-makanan Arab.
Di tempat itu juga disiapkan kue dan roti yang biasa digunakan untuk pelengkap menu makanan. Roti dan kue juga disiapkan oleh bagian tersendiri. Petugas memulai pekerjaan dengan mengecek kualitas bahan mentah yang terutama terbuat dari terigu hingga pengolahan bahan mentah itu menjadi produk.
”Kami juga menggunakan pengujian organoleptis yang menentukan tingkat penerimaan konsumen terhadap produk kami. Di samping itu, ada tes yang bersifat kimia dan fisik untuk menguji roti dan kue,” kata Executive Sous Chef Shane Don Buren yang menangani bagian roti dan kue.
Apabila makanan-makanan itu telah selesai dibikin, semua makanan dikirim ke bagian perakitan. Seorang pekerja akan menempatkan mulai makanan pembuka, makanan utama, hingga makanan penutup dalam satu nampan. Setelah itu, mereka akan membungkusnya dengan plastik. Petugas lain akan memasukkannya ke dalam gerobak dan dimasukkan ke truk. Truk ini siap menuju bandara dan memasukkan makanan ke dalam pesawat.
”Dalam setahun empat kali kami akan mengevaluasi menu-menu yang kami buat. Sebuah tim produksi Emirates akan mengusulkan menu yang baru. Ada tim lain yang menguji makanan kami,” kata Davis.
Waktu penyediaan makanan untuk penumpang pesawat biasanya berdasarkan jadwal keberangkatan pesawat. Katering pesawat memastikan dua jam sebelum pesawat lepas landas makanan telah siap. Setelah itu, 55 menit sebelum pesawat lepas landas, makanan telah masuk di dalam pesawat.
Tak hanya untuk penumpang, Emirates Flight Catering juga menyiapkan makanan untuk awak pesawat. Untuk awak pesawat, mereka menyiapkan makanan yang umumnya didominasi makanan yang kaya vitamin dan air. Untuk itu, buah dan sayur banyak disiapkan untuk menu awak pesawat.
”Berdasarkan volume bahan yang kami olah, saat ini kami memang dapur terbesar di dunia. Kami juga merupakan dapur tersibuk di dunia karena harus menyediakan makanan sebanyak itu dan juga menu yang bermacam-macam setiap harinya,” kata Davis.

SBY Menangis, Rakyat Jepang Terharu


TOKYO, KOMPAS.com — Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Yutaka Banno, Jumat (24/6/2011), mengatakan, pemerintah dan segenap rakyat Jepang sungguh berterima kasih Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang berkenan berkunjung ke kawasan gempa di Prefektur Miyagi, Jepang.
Beliau berkunjung di Kawanuma, salah satu kota dengan dampak gempa dan tsunami terparah. Beliau dan istri menangis melihat kondisi di sana. Sungguh kami sangat terharu.
-- Yutaka Banno

"Beliau berkunjung di Kawanuma, salah satu kota dengan dampak gempa dan tsunami terparah. Beliau dan istri menangis melihat kondisi di sana. Sungguh kami sangat terharu," kata Banno saat menyambut para peserta pertukaran pemuda Jepang-Indonesia JENESYS di Gedung Kementerian Luar Negeri Jepang di Tokyo, hari ini.
Kesamaan pengalaman soal gempa dan tsunami menjadi alasan tersendiri keeratan hubungan antara Jepang dan Indonesia. Kunjungan SBY dan juga program-program kerja sama seperti JENESYS diharapkan mampu menjembatani persahabatan ini.
Kerja sama bilateral, seperti program bantuan pendanaan terhadap berbagai proyek di Indonesia maupun bantuan Indonesia terhadap Jepang, akan terus ditingkatkan, demikian dikatakan Banno.
(Neli Triana dari Tokyo, Jepang)

Gadis Belia Lakoni Layanan Telepon Seks Bertarif Rp 424 Ribu

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah gadis remaja SMP yang bermukim di Kuala Lumpur, Malaysia, mengaku melakoni pekerjaan seks seperti telepon seks bertarif 150 ringgit Malaysia atau senilai Rp 424 ribu sekali telepon.
Dilansir The Star, Jumat (24/6/2011), siswi ini juga mengirimkan foto bugil mereka ke para pria hidung belang ini dengan tarif 10 ringgit atau Rp 28 ribu Malaysia per foto.
Para gadis belia ini mencari mangsanya melalui SMS dan juga layanan pesan singkat internet seperti Yahoo!.Bahkan, ada pula remaja putri yang memasang tarif sebesar 3.000 ringgit Malaysia (Rp 8,4 juta) selama sebulan untuk para pelanggan yang ingin mem-booking secara ekslusif.
Bahkan satu di antaranya memasukkan daftar layanan itu dengan mengatakan memilih melacur demi membeli iPhone. Kebanyakan siswi ini berasal dari Johor Baru, Malaka, Kuala Lumpur, dan Penang. Sejumlah bukti yang berhasil dikumpulkan ini kemudian diserahkan ke kepolisian negara bagian Johor.

Prediksi Kiamat, Nabi Palsu Wang Didenda Rp 11,7 Juta


TRIBUNNEWS.COM - Seorang pria yang mengaku sebagai nabi dinyatakan bersalah setelah membuat panik dengan ramalan kiamat yang ternyata gagal. Demikian diberitakan The China Post, pekan ini.

Wang Chao-hung, dikenal dengan nama Guru Wang dikenai denda sebesar 4.173 ringgit Malaysia (Rp 11,7 juta) di pengadilan distrik Nantou, Taiwan.

Hakim memutuskan Wang (55) bersalah karena melanggar Social Order Maintenance Law karena prediksinya tentang sebuah gempa parah yang membuat pulau itu hilang.

Dalam sebuah wawancara, Wang mengklaim jika 10:42.37 (lokal) pada 11 Mei gempa berkekuatan 14 skala Richther (SR) dan kemudian diikuti tsunami setinggi 170 meter dan akan menghilangkan pulau tersebut dari muka bumi serta menewaskan penduduk di negara itu yang jumlahnya mencapai satu juta jiwa.

Ratusan pengikut Wang kemudian pindah ke Nantou dan tinggal di penampungan yang terbuat dari kontainer kargo. Namun ternyata tak terjadi apa-apa dan ia terpaksa mengaku jika dirinya membuat keputusan itu dipengaruhi oleh alkohol.

Meski ia menyalahkan media karena membesar-besarkan berita namun hakim menyatakan bahwa prediksi
Wang membuat warga di negara itu panik dan ketakutan.

Lolos dari Perompak Somalia, Gaji olos dari Perompak Somalia, Gaji Setahun 9 ABK Raib Setahun 9 AB


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pusat Bantuan Hukum Tenaga Kerja Indonesia (PBHTKI) mendesak pemerintah untuk memperhatikan sembilan korban perampok Somalia. Alasannya, gaji setahun bekerja raib lantaran dipulangkan setelah kapal mereka dibajak perompak Somalia.
Ke sembilan ABK itu antara lain, Edi Supriyanto (28), Yasno (30), Octiansah (34), Amier Hidayat (37), Slamet Riyadi (29), Saparudin (23), Japar (27), Agretas Bertolomeos (37), dan Ahmad Yani (31).
"Ibarat sudah jatuh tertimpa tanggap pula. Mereka dipulangkan tanpa digaji selama 1 tahun bekerja dan asuransi sebagai mana diatur dalam surat perjanjian kerjasama ABK," kata Benhard Nababan, Ketua PBHTKI, usai beraudiensi dengan Komisi IX DPR, Jumat (24/06/2011).
Untuk diketahui, Pada 28 Maret tahun lalu, kapal tempat mereka bekerja dibajak gerombolan perompak Somalia. Beruntung, kapal perang Amerika USS Halyburton FFG 40 berhasil membebaskan mereka bersama empat warga lainnya. Setelah lolos, mereka pun diserahkan ke KBRI Muscat Oman.
Dijelaskan, sekembali ke Indonesia, sembilan orang ABK ini pun mengadu ke Direktorat WNI dan BHI Kemenlu, Kemenhub, BNP2TKI, dan Kemenakertrans.
Bukan sekedar mengadu, sembilan ABK yang direktrut PT Surya Mitra Bahari melalui agency Jia Feng Yi Co LTD pun kini menjadi bidikan.
"Kami berencana mempidanakan PT Surya Mitra Bahari atas dugaan praktek tindak pidana perdagangan orang. Selain itu, kami pidanakan karena tidak memiliki surat ijin pelaksana penempatan tenaga kerja. Termasuk, dugaan penggelapan gaji ABK," kata Benhard.

Manusia Terbau, Tidak Mandi 37 Tahun


TEMPO Interaktif, Varanasi - Sebagian besar manusia mandi sehari dua kali untuk membersihkan tubuh dari keringat dan kotoran. Namun, seorang pria India bernama Guru Kailash Singh menolak untuk mandi. Parahnya, Singh bukan tidak mandi sehari atau dua hari, tapi selama 37 tahun.

Pria 65 tahun asal Desa Chatav yang bekerja di pinggiran Sungai Gangga memilih mati daripada mandi. Ia pun tak peduli meski istrinya mengancam tidak mau tidur seranjang dengannya.

"Ia melawan kami dan lari. Kami sudah mencoba memaksanya beberapa kali supaya mandi, tapi kami tidak dianggap," kata istrinya Kalavati Devi, 60 tahun, seperti yang dikisahkan oleh Daily Mail, Jumat 24 Juni 2011.

Kailash Singh ini sehari-hari bekerja merawat sapi di pinggiran Sungai Gangga dengan temperatur rata-rata 47 derajat celcius. Ia mengakui tetangganya sering menertawakannya, tetapi ia mengklaim apa yang ia lakukan berdasarkan kehendak Tuhan.

Kailash Singh mulai tidak mandi sejak tahun 1974. Ia juga tidak pernah memotong rambut dan jenggot gimbalnya hingga mencapai panjang hampir dua meter. Ia menuruti saran seorang pendeta yang menjanjikan ia akan mendapatkan anak lelaki dan warisan yang bernilai jika ia mengikuti nasehatnya.

Ia selalu diolok-olok oleh tetangganya. Ia tidak akan bisa membujuk istrinya untuk punya anak. Nyatanya, ia punya tujuh anak perempuan dan tak punya seorang anak lelaki pun seperti yang dijanjikan pendeta.

Meski sering mendapat olok-olok, Kailash tak peduli. Ia menganggap orang-orang tidak memahaminya dan ia tidak akan mengubah pendiriannya. Ia juga mengakui, istrinya juga tidak suka dengan pilihannya. Tetapi sebagai istri yang baik, menurut Kailash, Kalavati harus bisa tahan.

Kailash punya cara sendiri untuk membersihkan diri. Ia tidak mandi dengan air, melainkan dengan menggunakan asap yang ia lakukan setiap sore. Menurutnya, asap itu bisa menghilangkan keringat.

Anaknya yang berusia 16 tahun, Pooja, mengatakan ayahnya menjadi terkenal karena kebiasaan tidak mandi itu. "Teman sekolah saya penasaran dan ingin melihat ayah saya," katanya. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa hidup sekian tahun dengan orang yang tidak pernah mandi.

Awalnya Pooja masih suka marah dengan kebiasaan ayahnya itu, tapi lama-kelamaan ia tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah kebiasaan ayahnya. Ayahnya hanya bersentuhan dengan air ketika membersihkan mulut dan kaki saja.

Inilah Algojo Pancung Termasyhur di Arab Saudi


TEMPO Interaktif, Mekkah - Namanya Abdallah bin Said al-Bishi. Ia mewarisi profesi ayahnya sebagai algojo pancung bagi terpidana mati di Arab Saudi. Boleh dibilang ia merupakan algojo paling masyhur. Stasiun televisi dari Libanon, LBC TV, pernah menyiarkan wawancara khusus dengan Abdallah pada 4 November 2006.

Algojo seperti Abdallah inilah yang bertugas mencabut nyawa terpidana mati, termasuk Ruyati binti Satubi, yang dipancung Sabtu pekan lalu. Jumlahnya memang tidak diketahui pasti, setidaknya ada enam algojo yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi. Abdallah ditempatkan untuk Kota Mekkah.

Abdallah memulai tugas pertamanya pada 1991, sepekan setelah ayahnya, Said al-Bishi wafat. Umurnya waktu itu 32 tahun. Ia sempat terkejut setelah beberapa pejabat dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan surat pengangkatannya sebagai algojo. Hari pertama, ia langsung memancung tiga orang.

Dengan pedang bernama “Sultan” warisan ayahnya, ia mengaku gugup saat pertama memenggal kepala orang. Pedang Sultan berbentuk melengkung seperti bulan sabit dengan panjang setengah meter. “Tiap orang sedikit gugup saat memulai pekerjaan barunya dan takut gagal,” kata Abdallah. Hingga kini, ia mengaku telah memancung lebih dari 100 kepala.

Di masa kecil, Abdallah pernah menyaksikan ayahnya memenggal kepala seorang pembunuh di depan gerbang Raja Abdul Aziz. Ia datang bersama ayahnya karena ingin melihat organ pencernaan seperti yang ia pelajari di sekolah. "Namun, yang saya lihat kepala manusia melayang, dari lehernya ada pancaran darah seperti sumur dan kemudian jatuh. Cukup dan saya tak tahan lagi,” ujarnya. Malamnya, ia susah tidur dan sekali bermimpi buruk

Sesuai syariat Islam, Saudi menerapkan hukum pancung terhadap terpidana mati kasus pembunuhan. Eksekusi bisa batal jika keluarga korban memaafkan dan pelaku diharuskan membayar diyat (uang pengganti) yang ditetapkan oleh keluarga korban.

Menurut ahli psikologi dari Kementerian Dalam Negeri Saudi, Dr Turki al-Atyan, syariat Islam memerintahkan hukuman mati dilaksanakan dengan cara dipenggal, bukan digantung atau ditembak. Ia mengungkapkan Saudi pernah menerapkan hukuman mati dengan cara ditembak.

Untuk memuluskan tugasnya, Abdallah hanya memakai pedang produksi Jowhar karena terbuat dari besi keras yang tidak mudah patah dan memang khusus untuk memancung kepala. Jowhar adalah sebuah kota kecil di Somalia, sekitar 90 kilometer sebelah utara Ibu Kota Mogadishu.

Cara memenggal pun ada dua: horizontal dan vertikal. Masing-masing memerlukan pedang khusus. Ia menyebut “Qaridha” sebagai pedang spesialis pancung dengan cara vertikal.

Ayah tiga anak ini mengaku tidak merasa berbeda saat akan memancung lelaki atau perempuan. Bahkan, ia mengaku pernah memenggal kepala teman-temannya yang menjadi terpidana mati. “Perbedaannya, kadang pria (yang akan dipenggal) tidak bisa mengendalikan kegelisahannya sehingga bingung duduk atau berdiri,” ujar Abdallah.

Selain memenggal kepala, Abdallah juga melaksanakan hukuman potong tangan atau kaki. Bedanya, kalau pancung, korban tidak dibius sama sekali, sedangkan potong tangan dibius lokal.

Ia menegaskan syarat utama menjadi algojo penggal adalah tidak boleh merasa iba terhadap orang yang akan dipancung. “Jika saya merasa iba, ia akan menderita. Bila hati ini merasa kasihan, tangan bakal gagal,” katanya.

Boleh jadi, profesi sebagai algojo pancung seperti pekerjaan turun-temurun bagi keluarga Al-Bishi. Menurut Abdallah, putra sulungnya, Badr, sudah dilatih menjadi algojo dan akan diangkat untuk bertugas di Ibu Kota Riyadh.

Jika Berbohong, Marty Diminta Mundur dari Jabatan Menlu


TEMPO Interaktif, Jakarta - Legislator PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin, mengaku kaget atas pemberitaan yang menyebutkan bahwa Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Abdulrahman Mohamed Amen Al-Khayyat, mengatakan Pemerintah SaudiMohamed Amen Al-Khayyat, mengatakan Pemerintah Saudi tidak pernah meminta maaf atas hukuman pancung terhadap Ruyati binti Satubi. Padahal sebelumnya, dia mendapat informasi langsung dari Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang menyatakan bahwa Pemerintah Saudi mengaku lalai dan meminta maaf atas eksekusi terhadap Ruyati.

"Saya dapat info dari Pak Marty di Istana mengatakan Pemerintah Saudi tidak pernah meminta maaf atas hukuman pancung terhadap Ruyati binti Satubi. Padahal sebelumnya, dia mengatakan Pemerintah Saudi tidak pernah meminta maaf atas hukuman pancung terhadap Ruyati binti Satubi. Padahal sebelumnya, dia mendapat informasi langsung dari Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang menyatakan bahwa Pemerintah Saudi mengaku lalai dan meminta maaf atas eksekusi terhadap Ruyati.

"Saya dapat info dari Pak Marty di Istan

"Saya dapat info dari Pak Marty di Istana yang menyatakan, 'Pak Hasanuddin, Pemerintah Saudi Arabia melalui dubesnya sudah minta maaf atas kelalaian mereka dan berjanji tidak akan mengulangi'," kata Tubagus, Jumat, 24 juni 2011. Tubagus menceritakan percakapannya dengan Marty usai rapat konsultasi antara Presiden SBY dan pemimpin DPR pada Kamis, 23 Juni 2011.

Tubagus menyampaikan hal itu kepada wartawan ketika ditemui di ruang Fraksi PDI Perjuangan di lantai 7 gedung Nusantara I DPR, Jumat, 24 Juni 2011. "Saya minta maaf kalau ternyata kesalahan ada di pihak Arab Saudi," kata Tubagus yang sempat menganggap kelalaian ada di pihak pemerintah.

Namun, Pemerintah Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia ternyata menyangkal keterangan yang disampaikan Marty. Mereka mengaku tidak pernah menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dalam eksekusi pancung Ruyati. "Kalau melakukan pembohongan publik, sebaiknya (Marty) mengundurkan diri," kata Tubagus.

Marty sendiri enggan memberikan komentar soal permintaan maaf Al-Khayyat, yang menyatakan sebagai perwakilan Pemerintah Arab di Indonesia. Al-Khayyat meminta maaf atas dieksekusinya Ruyati binti Satubi. "Tak ada lagi yang perlu saya sampaikan, masalah itu semua sudah cukup faktual," kata Marty di Kantor Presiden, siang tadi.

Sebelumnya, Marty menyatakan bahwa Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia minta maaf ke Pemerintah Indonesia dalam pernyataan persnya bersama Presiden SBY, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, dan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar. Hal ini dilakukan saat Marty memanggil Dubes Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan surat protes soal tindakan tegas atas eksekusi Ruyati tanpa pemberitahuan ke pemerintah. Ruyati binti Satubi tewas setelah dieksekusi pancung Sabtu pekan lalu. Hukuman ini dijatuhkan karena Pengadilan Arab menyatakan Ruyati membunuh majikannya. Keluarga majikan Ruyati tidak mau memaafkan untuk membatalkan hukuman mati Ruyati.