Cari Blog Ini

Minggu, 26 Juni 2011

Dasar Zionis, Wartawan yang Meliput Armada Gaza Pun Diancam Pula!


REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM - Israel memperingatkan wartawan-wartawan asing agar tidak mengambil bagian dalam pelayaran armada kapal yang berusaha mencapai Jalur Gaza yang diblokade.

"Mereka (para wartawan) yang nekat akan dilarang memasuki Israel hingga satu dasawarsa. Armada kapal itu berniat melanggar blokade yang diumumkan secara sah dan sesuai dengan semua perjanjian dan hukum internasional," kata surat yang dikirim oleh Oren Helman, Direktur Kantor Pers Israel, kepada organisasi-organisasi media asing yang meliput kawasan itu, Ahad (26/6).

"Saya ingin memperjelas... bahwa keikutsertaan dalam armada itu merupakan pelanggaran yang disengaja terhadap hukum Israel dan bisa membuat peserta dilarang memasuki Negara Israel selama 10 tahun, peralatan mereka disita dan sanksi-sanksi tambahan akan diterapkan," tegasnya.

Sekitar 10 kapal akan mengambil bagian dalam armada yang merupakan kelanjutan dari armada pertama yang diserbu pasukan komando Israel dan menewaskan sembilan aktivis Turki pada 31 Mei 2010.

Perhimpunan Pers Asing (FPA), yang mewakili wartawan di Israel dan wilayah Palestina, mengecam langkah itu dan mengatakan peringatan tersebut merupakan pesan mengerikan pada media internasional dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen Israel bagi kebebasan pers.

"Wartawan yang meliput peristiwa dan berita resmi seharusnya diizinkan melakukan tugas mereka tanpa ancaman dan intimidasi. Kami mendesak pemerintah (Israel) membatalkan keputusan itu segera," kata FPA dalam sebuah pernyataan.

Redaktur: cr01
Sumber: Antara/AFP

In Picture: Tanpa Gelar di Senayan


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Indonesia kembali tanpa gelar setelah harapan satu-satunya pasangan Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei pada final Djarum Indonesia Open Superseries Premier 2011 di Istora Senayan Jakarta, Minggu.

Unggulan keempat sebetulnya mampu merebut set pertama 22-20, tetapi dua set berikutnya harus menyerah dari unggulan pertama itu 14-21 dan 9-21. Tanpa gelar itu sama dengan gelaran Indonesia Open 2010.

Tampil di rumah sendiri dan mendapatkan dukungan dari ribuan penonton membuat pasangan ganda campuran Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir bermain tanpa beban meski lawan yang dihadapi adalah unggulan pertama.

Unggulan keempat ini berkat persiapan yang cukup matang langsung bisa memukan perolehan poin hingga mampu unggul 8-3. Meski unggul jauh pasangan tuan rumah sering melakukan kesalahan dan menguntungkan lawan.

Bahkan, Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir terkejar dalam perolehan poin oleh pasangan Zhang Nan/Zhao Yunlei hingga kedudukan 14-14. Kondisi sama kuat membuat kedua pasangan berusaha melepaskan diri. Namun, keduanya tetap sama kuat hingga kedudukan 20-20.

Dukungan dari ribuan suporter ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir saat "deuce" dilakukan. Pelan tapi pasti akhirnya mampu mengakhiri set pertama dengan 22-20.

Memasuki set kedua unggulan pertama asal China itu langsung menggebrak dan unggul 2-1. Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir berusaha mengimbangi permainan lawan, tetapi lawan juga terus melakukan tekanan yang tidak kalah sengitnya.

Unggulan pertama ini bahkan terus meninggalkan pasangan tuan rumah dalam hal pengumpulan poin. Tetapi pelan tapi pasti pasangan harapan tuan rumah itu mampu memperpendek selisih poin hingga 7-8.

Selisih poin mendekat membuat Zhang Nan/Zhao Yunlei meningkatkan tempo permainan. Andalan China ini bahkan mampu unggul 17-10 dan mengakhiri set kedua dengan 21-14 dan merubah kedudukan menjadi 1-1.

Di set ketiga Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir berinisiatif melakukan serangan terlebih dahulu, tetap lawan membaca serangan yang dilakukan. Hasilnya lawan kembali diuntungkan dan mampu unggul cepat 5-1.

Meski tetap berusaha menyerang, juara Singapura Open terlihat kesulitan untuk memperoleh poin bahkan tertinggal cukup jauh 7-11. Upaya terus dilakukan. Tetapi Tantowi sering melakukan kesalahan sendiri dan terus menguntungkan lawan.

Kepanikan nampak terlihat setelah kedudukan 19-9 untuk China. Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir tetap berusaha hingga akhirnya tetap menyerah dari unggulan pertama itu dengan 9-21.

Sebelumnya pasangan ganda putri Indonesia Vita Marissa/Nadya Melati juga gagal mempersembahkan gelar setelah di final dikalahkan pasangan ganda China, Wang Xiaoli/Yu Yang dengan dua set langsung 12-21,10-21. (*)
(T.B016/T009)
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

Jumat, 24 Juni 2011

Kecepatan SBY Dikalahkan Anak SD!


PRESIDEN SBY
  

 Respon pemerintah dalam kasus pemancungan TKI di Arab Saudi sangat lemah dan tidak mengandung terobosan.

"Responnya klasik. Waktu di Malaysia ada TKI bermasalah pemerintah bikin Satgas dan itu masih ada posko dan budgetnya di Menko Kesra. Lalu ada soal perdagangan manusia pemerintah bikin Satgas anti perdagangan manusia, masih ada di kementerian pemberdayaan perempuan. Padahal yang kita tunggu political action yang kongkrit," kata analis kebijakan publik Migrant Care, Wahyu Susilo, saat menjadi pembicara diskusi "Nasib Ruyati dan Harga Diri Negeri" di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6).

Menurutnya, Presiden SBY kalah cepat dengan masyarakat Indonesia dalam menyikapi persoalan Ruyati binti Satubi.

"Ketika presiden prihatin, semua juga prihatin. Dan kalau dia protes keras Arab Saudi, dia kalah cepat dengan anak-anak SD di Situbondo," lanjutnya.

Wahyu mengatakan, seharusnya Presiden mengeluarkan protes keras dengan diikuti tindakan nyata pada negara yang sering melecehkan TKI terutama perempuan itu.

"Seharusnya SBY protes keras dan dalam 1x24 jam dia minta Dubes Arab Saudi harus tinggalkan Indonesia," tegasnya.

Dalam tata krama diplomatik, tindakan itu diperkenankan. Apalagi, saat ini terbukti bahwa Arab Saudi memang tak punya niat baik dalam kasus-kasus TKI.

"Sekarang kita tahu dia punya polemik dengan Menlu, tapi soal siapa yang bohong terkait permintaan maaf itu tetap saja itu menunjukkan keangkuhan Saudi Arabia. Sejak awal, tidak memberitahu pemerintah tentang pemancungan Ruyati saja dianggap sebagai kebenaran itu tak bisa kita tolerir," terangnya.

PKS: Laporkan Menteri Marty Natalegawa ke Polisi


MARTY
  

RMOL. Diduga kuat Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa membohongi publik. Pasalnya, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia membantah pernyataan Marty dan menegaskan pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak pernah meminta maaf atas pemancungan Ruyati binti Satubi.

"Bila benar bohong, secara etis sebaiknya Marty mengundurkan diri. Namun secara yuridis, teman-teman LSM dapat melaporkan kebohongan publik ini kepada aparat hukum (polisi), supaya menjadi pembelajaran bagi pejabat lain agar tidak senang membohongi rakyat," kata anggota Komisi III dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboe Bakar Al Habsy, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 25/6).

Bila benar Marty membohongi publik, Aboe menilai hal ini menjadi bukti penguat betapa moralitas dan integritas pejabat publik sangat rendah.

"Saya lihat pidato para pejabat bersama Presiden SBY kemarin lebih bernuansa asal bapak senang (ABS). Mungkin secara psikologis takut kena reshuffle.  Memang masih perlu dibuktikan, siapakah yang sebenarnya berbohong, Menlu atau Dubes," tegas Aboe mendudukan persoalan.

Menurut Aboe, bila kinerja kementerian masih minim seharusnya para menteri segera memaksimalkan kinerjanya, bukan malah menutupi dengan kebohongan.

"Saya juga menyayangkan respon presiden yang cenderung terlambat, namun yang lebih disayangkan Presiden masih menuduh ada pihak yang menggoreng isu ini. Padahal kenyataannya memang kinerja pemerintah dalam menangani persoalan TKI sangat memble," demikian Aboe.

Dikendalikan Para Koruptor

Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho belum lama ini mengungkapkan, berdasarkan catatan ICW, sebanyak 45 koruptor Indonesia melarikan diri ke luar negeri dalam sepuluh tahun terakhir ini.


Sebanyak 20 orang di antaranya memilih Singapura sebagai tempat persembunyian. Koruptor adalah orang yang telah menggunakan uang negara, terutama untuk kepentingan dirinya sendiri.Ketika dia sudah mendapatkan kekayaan dari korupsi, dengan mudah dia melarikan diri ke luar negeri.

Mereka merasa tidak lagi aman dan dihantui rasa bersalah di negeri di mana harta dan kekayaan rakyat sudah dicuri. Dari sini kita menghadapi berbagai pertanyaan besar tentang negeri ini; tentang kedaulatan, martabat, dan harga diri bangsa yang telah dilecehkan begitu rupa oleh perangai para koruptor.

Yang bisa dipertanyakan tentu bukan saja semata- mata mengapa koruptor begitu mudah melarikan diri, namun juga kesigapan,kesungguhan, dan ketegasan aparat dalam membersihkan bangsa ini dari korupsi. Kenyataan itu juga menegaskan betapa bangsa ini mudah dikendalikan para koruptor.

Ia seolah bisa membuat, merencanakan, dan membeli apa saja di Republik ini. Mereka bahkan bisa mengendalikan media informasi, aparat hukum, dan mereka juga bisa mengukur sejauh mana hukum akan menjatuhi hukuman atas perbuatan tercela yang sudah dilakukan. Ini semakin diperparah oleh realitas buruknya penegakan hukum di negeri ini.

Hukum mudah dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Di tengah situasi demikian, para pejabat publik, politisi, dan pelaku bisnis terdidik untuk selalu melakukan jalan pintas. Mereka memahami bahwa hukum di Republik ini sering dikendalikan oleh mafia yang memiliki kekuasaan luar biasa.

Ia bahkan tidak mampu disentuh oleh aparat negara. Atas kondisi demikian, selama sistem pemerintah dan lembaga penegak hukum dipenuhi dengan semangat kolusi, jangan pernah berharap banyak korupsi bisa diatasi.

Pemimpin Mencontohkan

Sudah dipahami bersamasama bahwa memberantas korupsi bukan masalah ringan. Namun,pemberantasan korupsi juga hanya menjadi pepesan kosong bila tanpa diimbangi kemauan politik para pemimpin. Korupsi bisa diberantas bila terdapat sosok pemimpin yang memiliki visi yang tegas terhadap pemberantasan korupsi, bukan hanya dalam wacana belaka.

Dan semenjak dahulu,bangsa ini merindukan sosok pemimpin yang tegas dan bahkan ekstrem tidak saja kepada teroris dan pembangkang negara, melainkan juga kepada para koruptor. Jadi, pemimpin tidak saja menasihati agar masyarakat jangan korup,tetapi juga memberikan teladan untuk menindak tegas terhadap koruptor.

Itu semua harus menjadi dasardasar pemberantasan korupsi di negeri ini, dengan satu tujuan: Agar bangsa ini tidak dikendalikan oleh para pencuri uang rakyat. Intinya bukan saja bagaimana kekuasaan itu tidak korup, melainkan juga kekuasaan punya iktikad yang kuat untuk menghentikan korupsi.

Maka dari situ, masyarakat akan bisa membaca dan memahami pandangan kekuasaan politik atas korupsi. Sementara sejauh ini yang dipahami dalam perspektif masyarakat,kekuasaan politik belum menunjukkan tandatanda untuk memberantas korupsi sampai akar-akarnya. Bila korupsi itu menyangkut kolega sendiri,kekuasaan tampak tidak terlalu garang.

Setidaknya itu yang bisa dirasakan selama ini, sebagaimana pernyataan bahwa begitu banyak koruptor yang melarikan diri ke luar negeri. Pembasmian korupsi bukan retorika dan jargon politik, melainkan juga tindakan politik. Banyak kebijakan antikorupsi dengan ribuan pasal yang telah dirumuskan, tetapi korupsi terjadi di manamana dalam berbagai level dan bidang.

Dengan tangantangan politik yang kotor penuh noda korupsi, mereka melahirkan retorika dan jargon politik untuk pemberantasan korupsi.Nyatanya korupsi bukan tambah berkurang, malah semakin canggih modus operandi, bentuk, dan jenis-jenisnya.

Kontrol Publik

Semakin jelas bahwa korupsi terjadi ketika uang menjadi semacam “dewa” bagi elite bangsa ini. Kita pun semakin pesimistis tak mampu lagi mengangkat bangsa ini untuk memiliki kebesaran dan memperjuangkan peradaban politik yang telah digantikan oleh kekuatan uang yang luar biasa. Ia menentukan segala hal, bahkan dari moralitas hingga harga diri.

Yang paling dirugikan dalam setiap korupsi adalah masyarakat luas, maka sudah sepatutnya publik terus mengontrol dan mengingatkan penyelenggara negara atas tugasnya memberantas korupsi dan menegakkan hukum, sebab memberantas korupsi ibarat memeriksa kerusakan-kerusakan parah dalam diri kita.

Ketika mengobati salah satu bagian, atau bahkan mengamputasinya, bisa jadi bagian lain terasa sakit.Namun,itulah risiko agar badan tetap sehat. Sebab bila kita tidak mampu dan mau mengobati diri dengan cara seperti itu, dan merasakan sakit dalam jangka pendek, dalam jangka panjang hal tersebut justru akan merusak bagian tubuh lainnya.

Pemberantasan korupsi akan efektif bila digerakkan dari atas dan disambut dari bawah. Kekuasaan seharusnya memelopori pemberantasan korupsi dan bukan malah menuduhnya yang bukan-bukan. Pemberantasan korupsi bukan semata-mata di alam pikir manusia, melainkan yang jauh lebih penting adalah pada tindakan bagaimana itu dilakukan.

Tanpa tindakan yang tegas dan penuh rasa keadilan,mustahil pemberantasan korupsi bisa dilakukan kecuali hanya dalam pidato pemanis mulut. Aparatur negara, mereka yang umumnya dikaitkan dengan tindakan korupsi, seharusnya justru berada di depan untuk memelopori kesadaran masyarakat untuk bersama-sama antikorupsi, dari lingkup paling kecil sampai paling besar.● BENNY SUSETYO Pemerhati Sosial, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI

Antara Gayus dan Ruyati


Gayus dan Ruyati. Mereka bukanlah keluarga. Tidak pula saling bersaudara.Mereka juga tidak akan pernah bertegur sapa karena mereka memang tidak pernah bersua, terlebih ketika Ruyati kini telah tiada.
Namun apabila silsilahnya ditelusuri sampai jauh, keduanya ternyata memiliki banyak persamaan. Persamaannya, mereka berasal dari spesies yang sama, homo sapiens. Mereka juga berbangsa yang satu, bertanah air yang satu, serta menjunjung tinggi bahasa persatuan yang juga satu.Semua Indonesia.

Sayangnya, soal nasib, keduanya sangat berbeda. Ibarat langit dengan bumi.Gayus bisa melakukan korupsi yang menghasilkan patgulipat materi. Gayus nyaris memiliki segalanya. Harta yang berlimpah, istri setia yang jelita,rumah mewah, dan uang yang mungkin bisa untuk membeli segalanya.Termasuk untuk membeli hukum yang dijual murah di negeri ini.

Adapun Ruyati,nasib justru mengajaknya menjadi seorang TKI di Arab Saudi sekadar demi tabungan untuk hari tua.Yang memiriskan, alih-alih mendapatkan lembaran riyal dan kepingan dirham, justru dera dan siksa pedih yang harus dialami hingga membuatnya khilaf membunuh majikannya. Ruyati tidak sendiri. Ia hanya melanjutkan kisah dalam daftar panjang nestapa anak negeri di rantau.

Kuldesak Penghidupan

Rasa trenyuh dan pilu itu sungguh telah penulis rasakan dalam setiap kesempatan berinteraksi memberikan pembekalan psikologis kepada calon TKI.Melihat para ahli waris “Kartini”yang begitu lugu dan polos, dipaksa mempertaruhkan hidup di negeri orang, sungguh hati ini miris dibuatnya.

Terlebih apabila kita tahu betapa minimnya bekal keterampilan yang mereka bawa. Kursus kilat di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) yang hanya beberapa hari itu sungguh takkan mampu memberikan keterampilan yang mumpuni bagi TKI kita. Terbatasnya bekal kompetensi dan keahlian yang mereka miliki membuat mereka hanya menjadi pegawai berkasta terendah.

Terlebih dengan penguasaan bahasa asing yang sangat terbatas, ekstremnya hanya sekadar yes dan no atau laa dan na’am, sungguh tidak mudah bagi TKI kita untuk bisa bekerja dengan sejahtera. Kondisi itu masih diperparah dengan minimnya keberpihakan pemerintah, lemahnya perlindungan, serta ulah PJTKI nakal yang sering “memeras” jasa TKI dan mengabaikan hak-hak mereka.

Tanpa jaminan perlindungan hukum dan diplomasi yang memadai,mereka sungguh hanya akan menjadi bulan-bulanan para majikan, disiksa, didera, diperkosa, atau direnggut paksa nyawa dan kehidupannya. Namun, sesungguhnya, apabila kita berkenan merunut lebih jauh, pengambilan keputusan menjadi TKI sesungguhnya tidaklah sederhana.

Bagi sebagian besar TKI, luar negeri adalah mimpi perbaikan kehidupan karena di dalam negeri mereka telah mengalami kuldesak penghidupan. Mereka tak lagi kuasa menjerit karena kebutuhan hidup yang semakin mencekik, sementara lapangan pekerjaan kelewat sulit untuk dicari. Pemiskinan struktural telah menjerat dan memaksa mereka menjadi money provider bagi keluarganya dengan bekerja di negeri orang.

Bagi sebagian besar TKI, menggantang asap rezeki dengan bekerja di luar negeri sungguh tak lebih dari sebuah keterpaksaan. Mereka seakan tengah “berjudi”dengan nasib. Menjalani hidup sebagai TKI sungguh sangat tidak sederhana.Keterpisahan dari keluarga selama bertahuntahun akan membawa dampak psikososial yang tidak ringan tidak hanya bagi TKI,tapi juga bagi anak,suami,dan keluarga di Indonesia.

Anak-anak yang dibesarkan tanpa sentuhan orang tua, terlebih ibunda mereka,dalam perspektif psikologi berpotensi mengalami tumbuh-kembang yang relatif lebih sulit, apalagi jika tanpa figur pengganti orang tua.Beberapa anak “TKI sukses” tumbuh menjadi remaja yang bermasalah akibat dimanja dengan harta tanpa pengawasan dan didikan orang tua.

Ditinggalkan istri selama bertahun-tahun, bagi suamisuami normal,tentu saja bukan perkara yang sederhana. Pintupintu kasus perselingkuhan dan perceraian menjadi terbuka lebar.Sementara di luar negeri, TKI kita juga menghadapi tantangan dan godaan yang tak kalah besarnya. Manfaat dan mudarat itu lantas akan kembali pada pribadi masing-masing.

Pembiaran Negara

Siapa pun kita, termasuk Gayus,Ruyati, politisi,pejabat maupun jutaan TKI di luar negeri, sesungguhnya adalah sesama anak bangsa yang berhak mendapatkan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kita adalah warga sebuah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam sehingga semestinya layak untuk disejahterakan.

Negara,termasuk pula anggota Dewan yang terhormat, terlihat tidak serius untuk mengusaikan nestapa kemanusiaan ini. Para penguasa negeri ini masih saja sibuk berebut soal kekuasaan, bermain “kleptolitik” (kleptomania- politik) yang saling menyandera.

Negara sungguh tengah melakukan pembiaran ketika tidak serius menegakkan hukum, memberantas mafia peradilan, serta memberantas korupsi dan mengembalikan harta rakyat yang dijarah-rayah para koruptor. Cerita Gayus sengaja penulis angkat sebagai ilustrasi artikel ini, sungguh, sebagai sebuah pengingat agar kita tidak kembali lupa, betapa korupsi telah memiskinkan negeri ini hingga warganya hidup kesrakat dan melarat.

Jika Rp100 miliar patgulipat pajak yang berhasil digondol Gayus dengan komplotannya dihibahkan, setidaknya akan ada 10.000 calon TKI yang terselamatkan karena mendapat dana segar sebesar Rp10 juta rupiah. Jumlah yang mungkin cukup untuk memulai sebuah usaha sehingga mereka tidak perlu bertaruh harga diri menjadi TKI.

Moratorium TKI sungguh akan terjadi dengan sendirinya manakala masyarakat kita sejahtera. Seandainya TKI harus tetap ada, semestinya mereka telah mendapatkan program pendidikan dan pelatihan yang memadai sehingga mereka tidak menjadi pekerja berkasta rendahan yang dinista di negeri orang.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa Ruyati, Sumiati, Ceriati,Kikim Komalasari,dan jutaan saudara kita yang menggantang asap di luar negeri mungkin tidak akan terjadi. Cerita pilu TKI kita yang diiris sembilu di negeri seberang mungkin segera akan berlalu. Semua kini berpulang kepada kita.● ACHMAD M AKUNG Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Hadits Ifk (Dusta) tentang Aisyah

REPUBLIKA.CO.ID, Semua peristiwa itu terjadi setelah kaum Muslimin—dengan membawa tawanan dan rampasan perang—kembali ke Madinah. Namun kemudian ada suatu peristiwa yang pada mulanya tidak memberi dampak apa pun, tiba-tiba menjadi masalah besar; peristiwa yang terkait dengan Ummul Mukminin Aisyah.

Biasanya, bila Nabi SAW berangkat melakukan ekspedisi, beliau mengadakan undian terhadap istri-istrinya. Barangsiapa yang keluar namanya, maka dialah yang ikut serta.  Sorenya, pada waktu ekspedisi ke Bani Mushtaliq akan dilakukan, yang keluar namanya adalah Aisyah. Jadi dialah yang dibawa oleh Rasulullah. Aisyah adalah  seorang wanita yang berperawakan kecil dan ringan. Bila pelangkin sudah diantarkan orang sampai di depan pintu tendanya, dia pun naik. Lalu mereka membawanya ke punggung unta. Saking ringannya, mereka hampir tidak dapat merasakan keberadaan Aisyah dalam pelangkin.

Selesai dari ekspedisi (peperangan) dengan Bani Musthaliq itu, Nabi dan rombongannya berangkat lagi meneruskan perjalanan yang panjang dan sangat meletihkan—sebagaimana disebutkan di dua seri sebelumnya. Sesudah itu beliau menuju Madinah. Pada suatu tempat dekat kota, Rasulullah berhenti dan bermalam di sana. Kemudian diumumkan kepada rombongan, perjalanan akan diteruskan lagi.
 
Karena hendak menunaikan hajat, Aisyah keluar dari kemah Nabi, sedang pelangkin sudah menunggu di depan tenda, menantikan ia masuk kembali. Aisyah mengenakan seuntai kalung, dan setelah menyelesaikan keperluannya, kalung itu lepas dari lehernya. Ia pun kembali menyusuri jalan sambil mencari-cari. Dan setelah sekian lama mencari, Aisyah pun menemukannya kembali. Namun begitu kembali ke tenda, ternyata pelangkin itu sudah dipasang kembali di punggung unta. Sang pengiring mengira Ummul Mukminin sudah berada di dalamnya, mereka pun langsung berangkat.

Aisyah tidak menemukan seorang pun di tempat itu, namun ia tidak merasa takut atau khawatir karena yakin bahwa jika rombongan itu nanti mengetahui ia tidak ada di punggung unta, tentu mereka akan kembali ke tempat semula. Jadi ia lebih baik tidak meninggalkan tempat daripada mengarungi padang pasir tanpa pedoman. Aisyah pun berbaring berselimutkan pakaian luarnya di tempat itu, sambil menunggu orang yang akan datang mencarinya.

Pada sedang berbaring itu, Shafwan bin Mu'athal lewat di tempat tersebut, yang juga terlambat ikut rombongan pasukan karena harus menunaikan urusannya pula. Shafwan sebelumnya pernah melihat Ummul Mukminin Aisyah, sebelum ada  ketentuan hijab terhadap istri-istri Nabi. Begitu melihat Aisyah, Shafwan sangat terkejut dan melangkah mundur sambil berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un! Istri Rasulullah SAW! Kenapa anda sampai tertinggal?" ujarnya.

Aisyah tidak menjawab. Shafwan mendekatkannya untanya dan dia sendiri mundur sambil berkata, "Naiklah, wahai Ummul Mukminin!"

Setelah Aisyah naik, Shafwan kemudian segera menggeber untanya hendak menyusul rombongan yang lain. Tetapi tidak terkejar juga, karena ternyata mereka mempercepat perjalanan agar segera sampai di Madinah. Pasukan Muslimin ingin segera dapat beristirahat setelah mengalami perjalanan yang sangat meletihkan, perjalanan yang juga diperintahkan oleh Rasulullah guna menghindarkan fitnah yang hampir-hampir terjadi akibat perbuatan Abdullah bin Ubay.

Shafwan memasuki Madinah pada siang hari disaksikan orang banyak, sementara Aisyah di atas untanya. Sampai di depan rumahnya, Aisyah pun masuk. Tak terlintas dalam pikiran orang bahwa peristiwa ini akan dijadikan buah bibir, atau akan menimbulkan syak karena ia terlambat dari rombongan. Dalam hati Rasulullah sendiri tidak terlintas suatu prasangka buruk terhadap Shafwan, seorang orang Mukmin yang beriman teguh.

Juwairiyah binti Harits termasuk salah seorang tawanan perang Bani Mushtaliq. Dia seorang wanita cantik dan manis. Ia jatuh menjadi bagian salah seorang Anshar. Dalam hal ini ia ingin menebus diri, oleh sebab itu, ia segera pergi menemui Nabi yang saat itu sedang berada di rumah Aisyah.

"Saya Juwairiyah putri Harith bin Abi Dzirar, pemimpin masyarakat," katanya.  "Saya mengalami bencana, seperti sudah tuan ketahui tentunya. Tetapi karena saya sudah menjadi milik si fulan, maka saya telah mengajukan penawaran untuk membebaskan diri saya. Kedatangan saya kemari ingin mendapat bantuan tuan mengenai penawaran itu."

"Maukah engkau dengan yang lebih baik dari itu?" tanya Nabi SAW.

"Apa?"

"Saya penuhi penawaranmu dan saya menikahimu," kata Rasulullah.

Setelah berita itu tersiar, sebagai penghormatan terhadap semenda Rasulullah dengan  Bani Mushtaliq, tawanan-tawanan perang yang ada di tangan pasukan Muslimin segera dibebaskan. Sehingga mengenai Juwairiyah ini, Aisyah pernah berkata, "Tak pernah saya lihat ada seorang wanita yang lebih besar membawa keuntungan buat golongannya seperti dia ini."

Setelah Rasulullah menikah dengan Juwairiyah, beliau membuatkan rumah untuknya di samping rumah-rumah istrinya yang lain di dekat mesjid. Dengan demikian, Juwairiyah pun menjadi Ummul Mukminin pula.

Sementara itu, orang di luar mulai pula berbisik-bisik tentang keterlambatan Aisyah dan kedatangannya bersama Shafwan dengan menumpang untanya, sedang Shafwan sendiri seorang pemuda yang tegap dan tampan.

Saudara perempuan Zainab binti Jahsy yang bernama Hamna, sudah tahu bahwa  posisi Aisyah di hati Rasulullah lebih tinggi dibanding saudaranya itu. Ia segera  menyebarkan desas-desus tentang Aisyah ini.

Dengan demikian, Abdullah bin Ubay merasa mendapat lahan subur dalam usahanya  menyebarkan isu tersebut, yang sekaligus merupakan penawar terhadap api kebencian di hatinya. Ia mati-matian menyebarluaskan gosip ini. Namun dalam hal ini, kalangan Aus telah menentukan sikap untuk membela Aisyah. Ummul Mukminin Aisyah adalah lambang kesucian dan seorang wanita yang berakhlak tinggi, yang patut menjadi teladan. Peristiwa ini hampir saja menjadi fitnah besar di Madinah.

Berita-berita ini kemudian sampai juga kepada Rasulullah SAW. Tentu saja beliau resah dan gelisah. Beliau juga kebingungan, antara percaya atau tidak.

Orang-orang tak ada yang berani menyampaikan desas-desus itu kepada Aisyah, meskipun ia sendiri sudah merasa aneh melihat sikap Rasulullah yang kaku. Suatu sikap yang belum pernah dilihatnya dan memang tidak sesuai dengan perangainya yang selalu lemah-lembut, selalu penuh kasih kepadanya.

Kemudian Aisyah jatuh sakit, dan cukup parah. Bila Rasulullah datang menengoknya  dan ibunya ada di tempat itu merawatnya, beliau hanya berkata, "Bagaimana?"

Aisyah merasa pilu melihat sikap Nabi yang begitu kaku kepadanya. Sehingga berkata, "Kalau kau izinkan, aku akan pindah ke rumah ibu, supaya ia dapat merawatku."

Ia pun pindah ke tempat ibunya. Sikap Rasulullah yang demikian menimbulkan  kepedihan di hati Aisyah. Setelah lebih dari dua puluh hari menderita sakit, akhirnya Aisyah sembuh. Segala pembicaraan orang yang terjadi tentang dirinya, tidak ia ketahui.

Sebaliknya Rasulullah merasa sangat terganggu dengan berita-berita yang disebarkan orang-orang. Beliau kemudian berbicara di hadapan mereka. "Saudara-saudara, kenapa orang-orang menggangguku mengenai keluargaku. Mereka mengatakan hal-hal yang tidak sebenarnya mengenai diriku. Padahal yang kuketahui mereka itu orang baik-baik. Lalu mereka mengatakan sesuatu yang ditujukan kepada seseorang, yang kuketahui, demi Allah, dia juga orang baik. Ia tak pernah datang ke salah satu rumahku kecuali bersama denganku."

Kemudian Usaid bin Hudzair berdiri seraya berkata, "Wahai Rasulullah, kalau mereka itu dan saudara-saudara kami kalangan Aus, biarlah kami selesaikan. Dan kalau mereka itu dan saudara-saudara kami dari golongan Khazraj, perintahkanlah juga kepada kami. Sungguh patut leher mereka itu dipenggal."

Kaum Khazraj tentu saja menolak, bahkan balik menuding Aus. Keadaan pun jadi ramai. Dan hampir-hampir terjadi fitnah besar, jika Rasulullah tidak segera campur tangan dan menengahi mereka dengan kebijaksanaan beliau.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

TKI Pembantu akan Dihentikan Bertahap

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menyatakan, pemerintah secara bertahap akan menghentikan total penempatan TKI penata laksana rumah tangga (PLRT).

"Road map ke depan tak ada lagi penempatan PLRT. Ke depan PLRT harus diakhiri," kata Jumhur saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Islam Malang (Unisma) di Malang, Jawa Timut, Jumat.

Ia menegaskan, kualitas calon TKI harus ditingkatkan sehingga terjamin perlindungannya.

Setiap calon TKI, katanya, juga harus tumbuh kesadarannya bahwa untuk bekerja ke luar negeri jangan hanya menjadi PLRT.

Ia menyebutkan, lima macam TKI, pertama, mereka yang berangkat atas dasar kerja sama antarpemerintah (G to G) seperti TKI di Korea Selatan dan TKI di Jepang.

Kedua, TKI yang berangkat atas dasar kerja sama pemerintah dengan sawasta (G to P), misalnya, perusahaan multinasional minta bantuan TKI kepada pemerintah Indonesia.

Ketiga, TKI yang berangkat atas dasar kerja sama antarswasta (P to P), baik untuk sektor formal maupun informal.

"TKI jenis ini yang paling banyak. Terdapat 573 pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) bekerja sama dengan agen di negara penempatan. Proses P to P ini diawasi dokumennya oleh BNP2TKI," katanya.

Keempat, TKI perpindahaan dalam satu perusahaan (intracorporate transfer, ICT) misalnya karyawan hotel Hilton di Indonesia dipindah ke Hilton luar negeri. "Mereka lapor ke BNP2TKI," katanya.

Kelima, TKI mandiri yang mencari dan mendapatkan pekerjaan di luar negeri sendiri. "Kebetulan dari lima jenis TKI itu, yang paling banyak PLRT," katanya.
Redaktur: taufik rachman
Sumber: antara

Marc Jacobs Habiskan Rp 8,7 M dalam Waktu Sembilan Menit


[NEW YORK] Sudah bukan rahasia lagi, kalau seorang fasion desainer membutuhkan sesuatu yang glamor untuk meningkatkan publisitas pada pameran busana yang digelarnya. Ini penting karena bisa menaikan nilai dari produknya. Jadi sudah pasti para perancang membutuhkan dana untuk ajang promosinya ini.

Tetapi bahkan seorang pengusaha kaya pun akan tercengang kalau mengetahui untuk publikasi selama sembilan setengah menit saja yang dilakukan desainer Marc Jacobs, sampai menghabiskan uang sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,7 miliar.

 Wow! Fantastis!

Marc Jacobs merupakan perancang busana AS yang memimpin perusahaan dengan namanya sendiri sebagai label. Ia juga merupakan direktur kreatif untuk rumah busana  Prancis, Louis Vuitton.

Awal pekan ini, Jacobs baru saja menggelar pameran busana di Manhattan, New York. Hadir dalam ajang tersebut, selebriti seperti Vanessa Hudgens, Leighton Meester, musisi Fergie, Whoopi Goldberg dan Sofia Coppola.

Jumlah US$ 1 juta yang dibutuhkan Jacobs untuk menggelar acara peragaan busana selama sembilan setengah menit itu diungkapkan oleh partner kerjanya sendiri Robert Duffy.

Kepada media the New York Times ia mengatakan, jumlahnya bisa saja lebih, tetapi minimal sekitar US$ 1 juta. Jika dipecah, dana tersebut dibutuhkan untuk penampilan karya busana musim gugur 2011 koleksi Jacobs, dengan perhitungan sekitar US$ 1.750 per detik.

Uniknya koleksi busana Jacobs kali ini terinspirasi dari toko sex yang dijumpainya di jalan pinggiran kota. Busana yang dipamerkan menampilkan bahan-bahan diantaranya dari kulit dan plastik dengan jumlah 63 buah.

Semua itu diperagakan para model yang berjalan di atas panggung catwalk yang dilapisi Kain vinil yang didatangkan khusus dari California. Di balik panggung, ada 35 penata rias artis dan 70 orang penata busana yang bertanggungjawab dalam mengalirkan para model ke atas panggung dengan pengunjung sebanyak 500 orang di kawasan mahal Manhattan Armory.

Kemudian masih ada lagi 50 orang penata rambut yang bertugas memanjangkan rambut para model dengan tambahan rambut seharga US$ 180.

Berpetualang Di Guci


Wah, liburan sudah datang! It’s time to vacation…kawan! Ajak semua teman, pilih lokasi berlibur, siapkan barang bawaan and cabuttttt….!!!
Kali ini Suara Remaja mengajak kamu berlibur ke daerah Jawa Tengah tepatnya di Tegal. Nah, Kalau Bogor terkenal dengan objek wisata Puncaknya , Purwokerto memiliki Baturaden, Yogyakarta punya Kali Urang, eits.. Tegal nggak mau kalah dong! selain terkenal sebagai penghasil teh dan tahu acinya, Tegal juga punya  tempat berlibur yang nggak kalah dengan daerah lain lho. Yup, namanya objek wisata Guci.
Guci adalah objek wisata pemandian air panas yang terletak di kaki Gunung Slamet. Yang spesial dari pemandian air panas ini, airnya jernih dan yang pasti nggak berbau belerang seperti pemandian air panas lainnya. Uniknya lagi, Guci mempunyai 25 pancuran air panas yang setiap pancurannya memiliki suhu yang berbeda. Wow!  Ini beberapa nama pancuran yang ada di Guci, pancuran yang di pemandian umum bernama Pancuran 13, lalu ada air terjun Jedor dengan airnya terjunnya yang dingin.
Tunggu dulu kawan, nggak cuma pemandian air panasnya saja menarik,  kalau kamu memang petualang sejati, disini kamu akan menemukan pemandangan yang super keren! Bukit-bukit perkebunan sayur dan persawahan terhampar sepanjang mata memandang, dan ada perkebunan strawberry lho, disini kamu bisa memetik buah strawberry langsung dari tanamannya, tapi jangan lupa bayar ke petaninya ya. He-he-he. Selain itu, Guci juga menawarkan wisata hutan. Sambil jalan-jalan menikmati pemandangan pepohonan pinus, kamu bisa merasakan kesejukan daerah ini. Segarrrr! Kalau kamu malas untuk berjalan kaki, ada kuda yang siap disewakan untuk berkeliling perkebunan dan melihat air terjun.
Buat kamu yang mau bermalam atau menginap, jangan khawatir kawan, disekitar kawan objek wisata banyak terdapat villa dengan harga yang cukup terjangkau. Selamat berlibur!