REPUBLIKA.CO.ID, Sudah pukul 7 Andy belum juga bangun, belum shalat subuh dan belum siap-siap mandi. Alhasil, Andy terlambat lagi masuk sekolah seperti hari-hari sebelumnya.
Ibunya Andy akhirnya menerima surat teguran dari sekolah untuk yang kedua kalinya. Problem Andy sebenarnya tergolong tidak berat diabanding masalah teman-temannya. Andy hanya sering terlambat datang ke sekolah dan selalu lupa bawa buku PR.
Sementara masalah teman-teman Andy yang lain untuk anak remaja seusianya seperti merokok, mem-bully kawan bahkan pulang nongkrong di mal. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Andy.
Dari segi akademis Andy tergolong baik-baik saja. Andy mampu mengikuti pelajaran dengan baik walaupun belum pernah meraih rangking pertama atau 5 besar sekalipun. Namun Andy tidak terlalu payah mengikuti pelajaran karena hampir semuanya dapat diikutinya dengan baik. Tidak ada yang merisaukan prilaku Andy kecuali kebiasaannya yang selalu bangun kesiangan dan selalu terlambat masuk sekolah.
Sebenarnya sudah berbagai macam cara dilakukan oleh ibunya untuk mengatasi masalah itu. Namun Andylah yang susah untuk merubahnya. Memarahi, kesal bahkan mengancam sudah dilakukan ibunya Andy, namun jawaban Andy simple saja yaitu, "mengantuk yaa mengantuk, tidak bisa dirubah lagi."
Akhirnya ibunya mencoba mencari cara lain agar Andy tidak terlambat lagi datang ke sekolah. Agar tidak kesiangan ibunya meminta Andy untuk tidur lebih awal dimalam hari. Karena menurut ibunya Andy, cara ini dapat membuat Andy bangun juga lebih awal.
Untuk anak-anak remaja seusia Andy memang susah sekali tidur di awal waktu. Oleh karena itu, apa yang harus orangtua lakukan sebaiknya adalah menyibukkan anaknya dengan berbagai kegiatan di sore hari yang utamanya aktivitas yang bersifat fisik, seperti main bola, taekwondo atau bela diri lain yang dapat menguras tenaga.
Atau bisa juga dengan mengajak anaknya untuk bermain basket ball, tenis atau apa saja yang penting si anak mengikuti kegiatan fisik yang mengerahkan tenaga dan membuat lelah. Ketika tubuh si anak lelah maka biasanya si anak ingin segera sampai rumah, lalu mandi, makan dan tidur.
Dengan cara ini Insya Allah berhasil untuk membuat anak remaja kita tidur lebih awal dan kemudian bangun juga lebih awal dan diharapkan tidak akan terlambat bangun lagi.
Cari Blog Ini
Senin, 31 Oktober 2011
Sabtu, 29 Oktober 2011
Turis Jerman Dimakan Para Kanibal?
Daily Mail Stefan Ramin dan Heike Dorsch di salah satu lokasi menarik yang mereka kunjungi sebelum episode yang mengerikan itu.
NUKU HIVA, KOMPAS.com - Seorang pelaut yang tengah keliling dunia dikhawatirkan telah dimakan para kanibal dalam persinggahannya di sebuah pulau di South Sea, Polinesia Perancis, Pasifik. Sisa-sisa bakaran yang ditemukan di bara api unggun di satu titik di pulau itu diyakini merupakan bagian dari tubuh pelaut tersebut yang sejatinya seorang business adviser berusia 40 tahun bernama Stefan Ramin.
Sejumlah media internasional Minggu (16/10/2011) melaporkan, Ramin tampaknya telah pergi ke sebuah perburuan kambing tradisonal di hutan setelah melego jangkar di Nuku Hiva di Polinesia Perancis. Pacarnya, Heike Dorsch, 37 tahun, mengatakan, dia melihat Ramin berangkat dengan seorang pemandu lokal, bernama Henri Haiti. Namun, kata Dorsch, hanya pemandu itu yang kembali. Pemandu tersebut memberitahu Dorsch, "Telah terjadi kecelakaan. Dia (Ramin) membutuhkan bantuan."
Namun, sebelum Dorsch bergegas ke hutan, perempuan itu menyatakan, Haiti merantainya ke pohon dan memperkosanya. Dorsch berhasil melarikan diri beberapa jam kemudian dan memberitahukan petugas keamanan. Mereka lalu memulai pencarian selama tujuh hari guna menemukan Ramin.
Pekan lalu, tim pencari yang beranggota 22 orang polisi menemukan serakan abu di sebuah lembah. Di antara bara api terdapat tulang-tulang, termasuk sebuah tulang rahang, gigi dan logam yang meleleh, yang diyakini sebagai tambalan gigi. Para penyidik yakin, sesosok "tubuh manusia telah dipotong-potong dan dibakar' di situ.
Haiti masih hilang dan para tentara dari teritori luar negeri Perancis telah bergabung dengan polisi untuk mengejar pemandu tersebut.
Apa yang diyakini sebagai sisa-sisa tubuh itu telah diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Papeete, ibukota Polinesia Perancis. Dari sana sisa-sisa itu akan diteruskan ke Paris untuk dilakukan analisis DNA demi membuktikan apakah sisa-sisa tersebut benar-benar bagian dari tubuh Ramin atau bukan.
Sejak tahun 2008, Ramin yang berasal dari Haselau, Schleswig-Holstein, Jerman utara itu berlayar keliling dunia dengan menggunakan catamaran (perahu berlabung ganda) bersama Dorsch. Di Facebook, Ramin menulis minatnya 'bepergian, berlayar, kiting, kitesurfing, windsurfing, selancar, menyelam ... pokoknya segala sesuatu yang orang dapat lakukan di permukaan dan di bawah air".
Pasangan itu menggunakan sebuah blog online untuk melaporkan perkembangan kegiatan mereka kepada teman-teman dan kerabat. Bulan lalu mereka melego jangkar di Nuku Hiva, pulau terbesar dari kepulauan Marquesas yang selama berabad-abad telah tercantum dalam banyak laporan tentang kanibalisme.
Kepala penyidik Perancis, José Thorel, yang bermarkas di Tahiti, tidak menutup kemungkinan bahwa sisa-sisa tersebut merupakan bagian dari mayat Ramin. Namun ia mengatakan, uji tes DNA bisa memakan waktu berminggu untuk mendapat hasil.
Koran Jerman, Bild, mengatakan, Haiti merupakan 'tersangka kanibal'. Laporan dari pulau itu, tambah koran tersebut, menyebutkan, "Abu dari api unggun itu tersebar hingga beberapa meter. Di dalam abu itu terdapat tulang dan gigi palsu. Baunya terasa seperti daging terbakar. Di sekitar perapian pakaian bertebaran. Seorang jaksa mengatakan, (Ramin) kemungkinan dibunuh oleh seorang kanibal dan bagian-bagian dari tubuhnya dimakan." Selain dalam film horor, kanibalisme hampir tidak pernah terdengar lagi di dunia modern. Suku Korowai di Papua Nugini merupakan salah satu suku terakhir yang masih hidup yang makan manusia sebagai sebuah praktik budaya. Jumlah mereka kini tinggal sekitar 3.000 orang. Mereka hidup di daerah yang sangat terpencil. Suku itu tidak mengetahui keberadaan orang lain selain diri mereka sendiri hingga tahun 1970. Daily Mail melaporkan, ada klaim bahwa kaum Korowai langsung memakan otak manusia, selagi masih hangat. Namun klaim itu belum diverivikasi.
NUKU HIVA, KOMPAS.com - Seorang pelaut yang tengah keliling dunia dikhawatirkan telah dimakan para kanibal dalam persinggahannya di sebuah pulau di South Sea, Polinesia Perancis, Pasifik. Sisa-sisa bakaran yang ditemukan di bara api unggun di satu titik di pulau itu diyakini merupakan bagian dari tubuh pelaut tersebut yang sejatinya seorang business adviser berusia 40 tahun bernama Stefan Ramin.
Sejumlah media internasional Minggu (16/10/2011) melaporkan, Ramin tampaknya telah pergi ke sebuah perburuan kambing tradisonal di hutan setelah melego jangkar di Nuku Hiva di Polinesia Perancis. Pacarnya, Heike Dorsch, 37 tahun, mengatakan, dia melihat Ramin berangkat dengan seorang pemandu lokal, bernama Henri Haiti. Namun, kata Dorsch, hanya pemandu itu yang kembali. Pemandu tersebut memberitahu Dorsch, "Telah terjadi kecelakaan. Dia (Ramin) membutuhkan bantuan."
Namun, sebelum Dorsch bergegas ke hutan, perempuan itu menyatakan, Haiti merantainya ke pohon dan memperkosanya. Dorsch berhasil melarikan diri beberapa jam kemudian dan memberitahukan petugas keamanan. Mereka lalu memulai pencarian selama tujuh hari guna menemukan Ramin.
Pekan lalu, tim pencari yang beranggota 22 orang polisi menemukan serakan abu di sebuah lembah. Di antara bara api terdapat tulang-tulang, termasuk sebuah tulang rahang, gigi dan logam yang meleleh, yang diyakini sebagai tambalan gigi. Para penyidik yakin, sesosok "tubuh manusia telah dipotong-potong dan dibakar' di situ.
Haiti masih hilang dan para tentara dari teritori luar negeri Perancis telah bergabung dengan polisi untuk mengejar pemandu tersebut.
Apa yang diyakini sebagai sisa-sisa tubuh itu telah diterbangkan ke sebuah rumah sakit di Papeete, ibukota Polinesia Perancis. Dari sana sisa-sisa itu akan diteruskan ke Paris untuk dilakukan analisis DNA demi membuktikan apakah sisa-sisa tersebut benar-benar bagian dari tubuh Ramin atau bukan.
Sejak tahun 2008, Ramin yang berasal dari Haselau, Schleswig-Holstein, Jerman utara itu berlayar keliling dunia dengan menggunakan catamaran (perahu berlabung ganda) bersama Dorsch. Di Facebook, Ramin menulis minatnya 'bepergian, berlayar, kiting, kitesurfing, windsurfing, selancar, menyelam ... pokoknya segala sesuatu yang orang dapat lakukan di permukaan dan di bawah air".
Pasangan itu menggunakan sebuah blog online untuk melaporkan perkembangan kegiatan mereka kepada teman-teman dan kerabat. Bulan lalu mereka melego jangkar di Nuku Hiva, pulau terbesar dari kepulauan Marquesas yang selama berabad-abad telah tercantum dalam banyak laporan tentang kanibalisme.
Kepala penyidik Perancis, José Thorel, yang bermarkas di Tahiti, tidak menutup kemungkinan bahwa sisa-sisa tersebut merupakan bagian dari mayat Ramin. Namun ia mengatakan, uji tes DNA bisa memakan waktu berminggu untuk mendapat hasil.
Koran Jerman, Bild, mengatakan, Haiti merupakan 'tersangka kanibal'. Laporan dari pulau itu, tambah koran tersebut, menyebutkan, "Abu dari api unggun itu tersebar hingga beberapa meter. Di dalam abu itu terdapat tulang dan gigi palsu. Baunya terasa seperti daging terbakar. Di sekitar perapian pakaian bertebaran. Seorang jaksa mengatakan, (Ramin) kemungkinan dibunuh oleh seorang kanibal dan bagian-bagian dari tubuhnya dimakan." Selain dalam film horor, kanibalisme hampir tidak pernah terdengar lagi di dunia modern. Suku Korowai di Papua Nugini merupakan salah satu suku terakhir yang masih hidup yang makan manusia sebagai sebuah praktik budaya. Jumlah mereka kini tinggal sekitar 3.000 orang. Mereka hidup di daerah yang sangat terpencil. Suku itu tidak mengetahui keberadaan orang lain selain diri mereka sendiri hingga tahun 1970. Daily Mail melaporkan, ada klaim bahwa kaum Korowai langsung memakan otak manusia, selagi masih hangat. Namun klaim itu belum diverivikasi.
Testis Pria Ini Beratnya 50 Kilogram
LAS VEGAS, KOMPAS.com — Seorang pria Las Vegas, Amerika Serikat, menderita penyakit yang menyebabkan testisnya membesar hingga mencapai berat 50 kilogram.
Setelah selama ini menyembunyikan kondisinya, pria bernama Wesley Warren Jr itu memutuskan untuk mengungkapnya kepada publik. Hal itu dilakukan karena dia memerlukan uang hingga 1 juta dollar AS (sekitar Rp 8,8 miliar) untuk biaya operasi.
Kondisi yang ia alami disebut scrotal elephantiasis. Testisnya membesar di luar ukuran normal sehingga mengganggu aktivitasnya.Menurut lelaki 47 tahun tersebut, dia mengalami kondisi itu sejak tiga tahun lalu.
"Sangat susah untuk bergerak. Jadi, saya lebih banyak tinggal di rumah," katanya kepada Las Vegas Review-Journal.
Dengan risiko ditertawakan orang, Warren memberanikan diri mengungkap kondisinya kepada publik melalui sebuah acara di radio dan televisi yang dipandu pesohor Howard Stern.
"Siapa sih yang dianggap aneh? Tetapi, saya memperhitungkan, acara Stern ini didengar oleh jutaan orang dan mereka mungkin mau menolong saya. Saya berharap ada jutawan atau miliarder yang mau membantu," ucapnya.
Kondisi yang dialami Warren sebenarnya jarang ditemui di luar wilayah tropis Afrika dan Asia. Penyakit itu biasa dipicu infeksi akibat gigitan nyamuk.
Namun, Warren mengatakan, dia tidak pernah bepergian ke daerah tropis. Dia yakin kondisi itu diakibatkan kecelakaan yang ia alami pada 2008.
Warren berkisah, testisnya itu terjepit kakinya secara tidak sengaja ketika tubuhnya terpelintir di tempat tidur. Esoknya, ujar Warren, testisnya itu membesar hingga "seukuran bola sepak" sampai sekarang.
Saat itu, dia langsung memeriksakan diri ke rumah sakit University Medical Center. Dia mendapat antibiotik selama dua minggu karena, menurut dokter, kondisinya itu diakibatkan infeksi. Namun, tidak ada perubahan sama sekali.
Sejak itu, dia sudah memeriksakan diri ke berbagai dokter dan tetap tidak menemukan kesembuhan, hingga akhirnya dia putus asa.
Pembengkakan itu terus membesar sampai dia tidak bisa lagi bekerja dan harus hidup dengan tunjangan sebagai seorang difabel hingga kini.
Setelah selama ini menyembunyikan kondisinya, pria bernama Wesley Warren Jr itu memutuskan untuk mengungkapnya kepada publik. Hal itu dilakukan karena dia memerlukan uang hingga 1 juta dollar AS (sekitar Rp 8,8 miliar) untuk biaya operasi.
Kondisi yang ia alami disebut scrotal elephantiasis. Testisnya membesar di luar ukuran normal sehingga mengganggu aktivitasnya.Menurut lelaki 47 tahun tersebut, dia mengalami kondisi itu sejak tiga tahun lalu.
"Sangat susah untuk bergerak. Jadi, saya lebih banyak tinggal di rumah," katanya kepada Las Vegas Review-Journal.
Dengan risiko ditertawakan orang, Warren memberanikan diri mengungkap kondisinya kepada publik melalui sebuah acara di radio dan televisi yang dipandu pesohor Howard Stern.
"Siapa sih yang dianggap aneh? Tetapi, saya memperhitungkan, acara Stern ini didengar oleh jutaan orang dan mereka mungkin mau menolong saya. Saya berharap ada jutawan atau miliarder yang mau membantu," ucapnya.
Kondisi yang dialami Warren sebenarnya jarang ditemui di luar wilayah tropis Afrika dan Asia. Penyakit itu biasa dipicu infeksi akibat gigitan nyamuk.
Namun, Warren mengatakan, dia tidak pernah bepergian ke daerah tropis. Dia yakin kondisi itu diakibatkan kecelakaan yang ia alami pada 2008.
Warren berkisah, testisnya itu terjepit kakinya secara tidak sengaja ketika tubuhnya terpelintir di tempat tidur. Esoknya, ujar Warren, testisnya itu membesar hingga "seukuran bola sepak" sampai sekarang.
Saat itu, dia langsung memeriksakan diri ke rumah sakit University Medical Center. Dia mendapat antibiotik selama dua minggu karena, menurut dokter, kondisinya itu diakibatkan infeksi. Namun, tidak ada perubahan sama sekali.
Sejak itu, dia sudah memeriksakan diri ke berbagai dokter dan tetap tidak menemukan kesembuhan, hingga akhirnya dia putus asa.
Pembengkakan itu terus membesar sampai dia tidak bisa lagi bekerja dan harus hidup dengan tunjangan sebagai seorang difabel hingga kini.
Truk Lindas Bocah Dua Kali agar Tewas
Ibu Maoke Xiong tampak duduk tertegun di dekat jenazah putranya yang diduga dilindas truk hingga dua kali.
CHENGDU, KOMPAS.com — Seorang pengemudi truk menabrak bocah pria umur lima tahun dengan truknya. Bukan berhenti, truk itu malah mundur, menggilas bocah itu lagi demi memastikannya tewas. Aksi keji itu dilakukan guna menghindari biaya rumah sakit bagi anak itu yang akan lebih mahal dibanding kompensasi kematian yang harus dibayar kalau ia tewas.
Insiden memuakkan itu terjadi Desa Yunfeng, Luzhou, Provinsi Sichuan, di China barat, ketika Ao Yong, si sopir truk, menabrak Maoke Xiong saat bocah itu tengah berjalan kaki ke sekolah, demikian laporan Daily Mail, Selasa (25/10/2011). Tragedi itu terjadi Kamis pekan lalu ketika Ao Yong sedang mengangkut semen dari kota Chongqing menuju Luxian.
Seorang saksi mata, Shifen Zhang, berkata, "Saya melihat truk itu mundur sedikit dan kemudian maju lagi. Xiong jadi terperangkap di roda dan truk itu terus maju sekitar sepuluh meter." Seorang pelintas lainnya mengatakan, sopir truk itu melompat dari ruang kemudi setelah menabrak anak itu. Mereka menyatakan, Yong kemudian bertanya, "Berapa banyak (uang) yang harus saya bayar".
Namun, Yong membantah telah menggilas bocah itu dua kali demi memastikannya tewas. Harian China Daily dalam situsnya, Senin, melaporkan, penyelidikan polisi tidak menemukan bukti bahwa anak itu dilindas dua kali. Sementara para ahli medis, kata harian itu, menemukan Maoke Xion meninggal karena cedera otak traumatis dan mereka menyimpulkan, anak itu ditabrak selagi berdiri. Masih menurut polisi, si sopir telah menggunakan rem darurat dan truknya mengalami gesekan panjang sebelum berhenti.
Masih menurut versi polisi, seperti dikutip China Daily, berbeda dengan adegan tanpa perasaan yang ditunjukkan dua pengemudi dan belasan pelintas dalam kasus yang menimpa Yue Yue di Guangdong, yang dilindas dua truk dan diabaikan belasan pelintas, Ao yang berusia 35 tahun dari Luxian, merupakan orang pertama yang menelepon polisi. Saat keluar dari truk, kata polisi, Ao menemukan Xiong terjebak di bawah roda depan. Karena kondisi bocah itu parah, sopir tersebut tidak berani memindahkannya dan dia segera menghubungi polisi.
Menurut Daily Mail dan China Daliy, selama tujuh jam jenazah bocah malang itu tidak dipindahkan dari kolong truk. Dalam adegan yang menyayat hati, ibu bocah itu tampak duduk tertegun di dekat jenazah putranya. Polisi mengatakan, tubuh bocah itu tidak segara dipindahkan segera karena penduduk desa yang marah menuntut kompensasi langsung dari si pengemudi.
Serangkaian kasus mengerikan seperti itu telah menimbulkan perdebatan di China soal moralitas bangsa itu yang sepertinya semakin tak peduli dengan sesama yang menderita atau mengalami kemalangan. Ledakan ekonomi yang dialami negara itu selama beberapa dekade terakhir telah disalahkan dalam mendorong materialisme di masyarakat.
Kompensasi untuk korban kecelakaan yang meninggal dunia dilihat banyak orang China lebih murah ketimbang harus membayar biaya perawatan rumah sakit. Rezim Komunis negara itu tidak menyediakan layanan kesehatan gratis bagi 1,3 miliar warganya.
Ketakutan akan tagihan biaya medis yang tinggi juga diduga menjadi alasan di balik nasib tragis yang menimpa Yue Yue, gadis cilik berusia dua tahun yang ditabrak lari hingga dua kali, dan diabaikan belasan orang yang lewat di pasar kota Foshan yang sibuk pada Kamis dua pekan lalu. Berdasarkan gambar dalam rekaman video pemantau, Yue Yue ditabrak dua kendaraan dan dibiarkan sekarat. Adegan itu dilihat oleh jutaan orang di internet dan memicu kemarahan.
CHENGDU, KOMPAS.com — Seorang pengemudi truk menabrak bocah pria umur lima tahun dengan truknya. Bukan berhenti, truk itu malah mundur, menggilas bocah itu lagi demi memastikannya tewas. Aksi keji itu dilakukan guna menghindari biaya rumah sakit bagi anak itu yang akan lebih mahal dibanding kompensasi kematian yang harus dibayar kalau ia tewas.
Insiden memuakkan itu terjadi Desa Yunfeng, Luzhou, Provinsi Sichuan, di China barat, ketika Ao Yong, si sopir truk, menabrak Maoke Xiong saat bocah itu tengah berjalan kaki ke sekolah, demikian laporan Daily Mail, Selasa (25/10/2011). Tragedi itu terjadi Kamis pekan lalu ketika Ao Yong sedang mengangkut semen dari kota Chongqing menuju Luxian.
Seorang saksi mata, Shifen Zhang, berkata, "Saya melihat truk itu mundur sedikit dan kemudian maju lagi. Xiong jadi terperangkap di roda dan truk itu terus maju sekitar sepuluh meter." Seorang pelintas lainnya mengatakan, sopir truk itu melompat dari ruang kemudi setelah menabrak anak itu. Mereka menyatakan, Yong kemudian bertanya, "Berapa banyak (uang) yang harus saya bayar".
Namun, Yong membantah telah menggilas bocah itu dua kali demi memastikannya tewas. Harian China Daily dalam situsnya, Senin, melaporkan, penyelidikan polisi tidak menemukan bukti bahwa anak itu dilindas dua kali. Sementara para ahli medis, kata harian itu, menemukan Maoke Xion meninggal karena cedera otak traumatis dan mereka menyimpulkan, anak itu ditabrak selagi berdiri. Masih menurut polisi, si sopir telah menggunakan rem darurat dan truknya mengalami gesekan panjang sebelum berhenti.
Masih menurut versi polisi, seperti dikutip China Daily, berbeda dengan adegan tanpa perasaan yang ditunjukkan dua pengemudi dan belasan pelintas dalam kasus yang menimpa Yue Yue di Guangdong, yang dilindas dua truk dan diabaikan belasan pelintas, Ao yang berusia 35 tahun dari Luxian, merupakan orang pertama yang menelepon polisi. Saat keluar dari truk, kata polisi, Ao menemukan Xiong terjebak di bawah roda depan. Karena kondisi bocah itu parah, sopir tersebut tidak berani memindahkannya dan dia segera menghubungi polisi.
Menurut Daily Mail dan China Daliy, selama tujuh jam jenazah bocah malang itu tidak dipindahkan dari kolong truk. Dalam adegan yang menyayat hati, ibu bocah itu tampak duduk tertegun di dekat jenazah putranya. Polisi mengatakan, tubuh bocah itu tidak segara dipindahkan segera karena penduduk desa yang marah menuntut kompensasi langsung dari si pengemudi.
Serangkaian kasus mengerikan seperti itu telah menimbulkan perdebatan di China soal moralitas bangsa itu yang sepertinya semakin tak peduli dengan sesama yang menderita atau mengalami kemalangan. Ledakan ekonomi yang dialami negara itu selama beberapa dekade terakhir telah disalahkan dalam mendorong materialisme di masyarakat.
Kompensasi untuk korban kecelakaan yang meninggal dunia dilihat banyak orang China lebih murah ketimbang harus membayar biaya perawatan rumah sakit. Rezim Komunis negara itu tidak menyediakan layanan kesehatan gratis bagi 1,3 miliar warganya.
Ketakutan akan tagihan biaya medis yang tinggi juga diduga menjadi alasan di balik nasib tragis yang menimpa Yue Yue, gadis cilik berusia dua tahun yang ditabrak lari hingga dua kali, dan diabaikan belasan orang yang lewat di pasar kota Foshan yang sibuk pada Kamis dua pekan lalu. Berdasarkan gambar dalam rekaman video pemantau, Yue Yue ditabrak dua kendaraan dan dibiarkan sekarat. Adegan itu dilihat oleh jutaan orang di internet dan memicu kemarahan.
Sabtu, 23 Juli 2011
Penyaluran Dana BOS Diminta tak Masuk APBD
REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR - Penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diminta tidak lagi masuk ke dalam batang tubuh APBD mekanisme ini yang mengakibatkan penyaluran BOS tidak tepat waktu, kata Bupati Soppeng Andi Soetomo.
"Pencairan dana BOS, tergantung penyelesaian APBD, baru bisa dicairkan. Kalau APBD terlambat, terlambat juga pencairannya," ujarnya di Makassar, Jumat (22/77), menanggapi masuknya Soppeng dalam daftar kabupaten yang belum mencairkan dana BOS seperti yang diumumkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional.
Selain Soppeng, Sidrap dan Bantaeng juga masuk dalam daftar tersebut. "Persoalannya, dulu BOS tidak masuk dalam batang tubuh APBD, sekarang masuk. Efektifnya, pusat langsung mengirim ke sekolah jangan melalui APBD karena harus melalui proses administrasi," katanya yang mengaku pernah mengusulkan agar mekanisme penyaluran BOS dikembalikan ke mekanisme lama yaitu langsung ke rekening kepala sekolah yang membutuhkan.
Ia mengaku, tidak tahu persis jumlah dana BOS yang diterima oleh Soppeng tahun ini. "Yang jelas ada. Daerah lain bisa cepat penyalurannya karena penetapan APBD-nya juga cepat. Soppeng baru bulan lima ditetapkan," jelasnya.
Alasan lain yang dikemukakannya sebagai penyebab pencairan dana BOS adalah keterlambatan pengiriman petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat. "Terlambat memang, bulan tujuh ini baru keluar. Seharusnya begitu ada penyampaian pencairan sudah harus ada juknis kemudian dilakukan pertemuan dengan penerima. Harus ada juknis karena kita tidak bisa melangkah tanpa juknis," ujarnya yang menilai hal ini adalah kesalahan pemerintah pusat, bukan
pemerintah provinsi atau kabupaten.
Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Patabai Pabokori menjelaskan, penyaluran dana BOS diatur untuk diterima sekolah pada per awal triwulan setiap tahunnya. Pada 2011, setiap triwulan dana BOS yang dicairkan untuk 24 kabupaten dan kota di Sulsel mencapai lebih dari Rp175 miliar.
Jumlah yang diterima setiap kabupaten bervariasi tergantung jumlah siswa dan sekolah. Ia pun menilai, masih adanya kabupaten yang belum menyalurkan dana BOS adalah dampak perubahan mekanisme penyaluran ke kas pemerintah kabupaten. Sebelumnya, saat mekanisme penyaluran langsung ke rekening kepala sekolah, tidak pernah terjadi keterlambatan.
Ini Terapi Apa Mencari Mati
TEMPO Interaktif, Jakarta-Terik matahari tak lagi menyengat Kamis sore lalu, 21 Juli 2011. Warga sekitar Stasiun Rawa Buaya, Duri Kosambi, Jakarta Barat, berduyun-duyun menuju rel kereta api.
Seperti menantang kereta yang bisa sewaktu-waktu datang, beberapa orang lalu duduk di bantalan rel sembari menaruh kedua tangannya di rel. Beberapa lagi bahkan nekat rebahan, kepala diletakkan di satu bentang rel lalu kaki di bentang rel lainnya.
Tak peduli larangan, mereka bermaksud mencari terapi listrik gratis. Menurut kesaksian beberapa warga, kejutan arus listrik yang dirasakan begitu badan ditempelkan dengan rel berkhasiat menyembuhkan. "Badan jadi enak. Tidak sering nyeri lagi," kata Sri, 50 tahun, yang mengaku mengidap diabetes.
Sri mengaku sudah mengikuti terapi massal itu selama setahun. "Bagi orang kecil seperti saya, terapi gratis ini kan sangat membantu. Kalau terapi beneran, mana saya mampu?" ujar Sri.
Warga yang datang dari Semanan, Kalideres, itu menyatakan tidak khawatir akan kemungkinan tertabrak kereta saat terapi. Teguran atau pengusiran dari petugas PT Kereta Api (KA) diakui telah dia diterima. Tapi, dia mengatakan, "Tangkap ya tangkap saja. Kalau kemungkinan mati kan bisa kapan dan di mana saja."
Budi, 52 tahun, juga mengaku memperoleh efek positif dari terapi itu. Dia menyatakan penyakit asam urat yang dideritanya kini membaik. "Belum saya cek ke dokter, tapi saya pribadi merasakan perubahan baik di tubuh saya," kata pria yang sore itu rebahan dengan bercelana pendek, kaus putih, topi cokelat, dan kacamata hitam itu.
Warga memang serius menjalani terapi. Mereka bahkan datang dengan persiapan handuk untuk alas tidur. "Mungkin banyak orang ke sini karena dekat dengan stasiun yang punya 2 jalur rel dan ada pengeras suara sehingga gampang tahu jika ada kereta melintas," tutur Budi.
PT KA jelas tak senang dengan adanya terapi itu. Selain berbahaya, kondisi stasiun juga menjadi kumuh. Mereka berusaha mencari dan memanggil orang yang dianggap sebagai tabib dari terapi itu. "Tapi, belum ada yang datang," kata Executive Vice President PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional I, Purnomo Radiq, Kamis lalu.
Kepala Stasiun Rawa Buaya, Suardi, mengungkapkan pihaknya telah bolak-balik menertibkan. Juga memasang spanduk berisi peringatan dan larangan. "Tapi warga masih saja membandel. Susah juga (menghalau warga)," katanya mengeluh.
Wakil Lurah Duri Kosambi Firmansyah tak tahu pasti sejak kapan kebiasaan aneh itu dilakoni warga. Menurut dia, kebiasaan itu memang pernah marak, tapi kemudian menghilang, sampai muncul lagi saat ini. "Sepertinya ini berkembang dari mulut ke mulut saja. Tidak ada yang bertindak sebagai tabibnya," kata Firmansyah.
Tak urung, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun angkat bicara. Dia meminta warga untuk berhenti terapi. "Sudah diimbau, itu satu langkah yang secara medis tak bisa dipertanggungjawabkan," kata Fauzi di Balai Kota, Jumat kemarin, 22 Juli 2011.
Fauzi membantah dugaan rendahnya pelayanan kesehatan di puskesmas setempat, sehingga warga memilih terapi alternatif berbaring di rel. "Itu mindset yang keliru saja, puskesmas kecamatan kita sudah mendapat ISO," katanya.
Secara terpisah, Kepala Polsek Cengkareng Komisaris Ruslan menyatakan menunggu permintaan dari PT KA untuk bisa ikut menertibkan di jalur kereta itu. "Tidak bisa main tangkap atau usir. Bukan wewenang kami tiba-tiba masuk ke sana," kata Ruslan.
Saatnya Blogger Bicara Mudik
TEMPO Interaktif, Semarang - Para blogger kini menjadi komunitas yang patut diperhitungkan di dunia maya. Melalui tulisan-tulisan mereka, siapa saja bisa menjadi sumber referensi baru dan mendapatkan informasi selain melalui situs berita.
Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, para blogger turut berpartisipasi dengan cara melakukan uji jaringan di sepanjang rute jalur mudik di Pulau Jawa. "Karena mereka adalah heavy user untuk layanan data," kata Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 23 Juli 2011.
Lebih dari 200 blogger yang melakukan perjalanan darat dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Ponorogo, Solo, dan Yogyakarta akan berkumpul dalam Obrolan Langsat (Obsat) di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, sore ini. Ini menjadi diskusi Obsat pertama yang berlangsung di luar Jakarta.
Dalam obrolan Langsat yang dipandu blogger Wicaksono atau lebih dikenal Ndorokakung ini akan hadir blogger otomotif Edo Rusyanto, Brigadir Satu (Briptu) Eka Frestya dari Traffic Manajemen Center (TMC) Polda Metro Jaya, dan perwakilan operator selular XL. Pada acara yang bertema "Mudik Aman dan Nyaman" itu, mereka akan berbagi informasi seputar pengalaman menggunakan layanan data di sepanjang jalur mudik, tips bagi para pemudik, informasi titik-titik kepadatan di jalur mudik, dan kesiapan jaringan XL untuk mengantisipasi lonjakan traffic.
"Kami mengharapkan masukan dari mereka karena para blogger menjadi referensi bagi banyak orang," kata Febriati.
Senior Vice President PT XL Axiata Tbk, Ongki Kurniawan, mengatakan selama Lebaran rata-rata terjadi lonjakan traffic sebesar 30 sampai 35 persen dari hari biasa. Dalam keadaan normal, setiap harinya XL melayani 530 juta menit panggilan telepon, 630 juta SMS, dan layanan data sebesar 33 terabita.
Khusus untuk layanan data, Ongki mengatakan terjadi lonjakan traffic yang signifikan dibanding tahun lalu, dari 8,6 terabita per hari menjadi 33 terabita setiap hari. "Kenaikannya sampai 400 persen," ujarnya.
Sementara, untuk layanan voice call dan pesan singkat, Ongki optimistis kapasitas jaringan XL masih mampu menangani traffic yang padat karena didukung 24 ribu BTS, baik 2G maupun 3G, dan 18 unit mobile BTS.
Anak Indonesia Butuh Teladan Kejujuran
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, anak Indonesia saat ini membutuhkan teladan kejujuran. Ia mengatakan, fenomena contek massal yang sempat menjadi perhatian publik beberapa bulan lalu, konflik antarelite politik meniscayakan kebohongan dan ketidakjujuran salah satu pihak yang berseteru.
"Anak Indonesia butuh teladan kejujuran. Perilaku elite politik yang saring tuding dan fitnah mempertontonkan perilaku kebohongan yang bertentangan dengan semangat perlindungan anak," kata Asrorun, di Jakarta, Jumat (22/7/2011).
Kebohongan elite yang dipertontonkan di depan publik, menurut Asrorun, mengganggu mental anak dan menyebabkan krisis keteladanan. Terkait peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli, ia mengungkapkan, sudah saatnya seluruh elemen mengarusutamakan hak anak dan menjadikan pemenuhan anak sebagai faktor utama dalam pengambilan kebijakan publik.
"Perlindungan anak Indonesia merupakan tanggung jawab bersama orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Perlu ada kesadaran kolektif untuk melihat pentingnya pemenuhan hak anak," katanya.
Asrorun menjelaskan, perlindungan anak memiliki dua substansi utama yaitu, pertama, pemenuhan hak-hak dasar yang meliputi hak agama, kesehatan, pendidikan dan sosial. Kedua, perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Selama ini, pemegang kebijakan dinilainya belum seluruhnya memiliki perspektif perlindungan anak dalam menjalankan amanah pembangunan.
Ia mencontohkan, masalah infrastruktur, misalnya, jarang sekali pembangunan jalan, gedung dan juga fasilitas sosial serta fasilitas umum maupun layanan publik yang memperhatikan kebutuhan anak. "Perilaku politisi yang mempertontonkan pertikaian dan kebohongan juga sangat tidak perspektif anak," tandas Asrorun.
Kalau Kera Narsis Memotret Diri Sendiri
KOMPAS.com — Ternyata, bukan cuma manusia yang narsis suka memotret dirinya. Kera pun demikian. Setidaknya, inilah perilaku kera yang ditemui fotografer David Slater yang beberapa waktu lalu berkunjung ke taman nasional wilayah Sulawesi Utara, Indonesia.
Perilaku itu dijumpai Slater ketika ia selesai mengambil gambar. Slater meninggalkan perangkatnya sejenak untuk sebuah urusan dan ketika kembali, ia menjumpai kera-kera yang ada di taman nasional itu bermain dengan kamera dan memotret dirinya sendiri.
"Mereka nakal, melompat dan bermain dengan peralatan. Seekor kera memencet tombol. Suara ketika kamera mengambil gambar menarik perhatian dan kera itu pun terus memencetnya. Pada awalnya mereka takut, tetapi akhirnya kembali. Sangat menyenangkan bisa melihatnya," kata Slater.
Menurut Slater, kera-kera tersebut dipastikan telah mengambil ratusan foto diri. Sebuah foto menampakkan kera memamerkan gigi depannya yang besar dan mata berwarna coklat. Koleksi foto-foto monyet tersebut bisa dilihat di YouTube.
Slater menghabiskan waktu 3 hari berturut-turut dengan kera tersebut. Ia mengatakan bahwa kera di taman nasional itu sangat bersahabat. "Meskipun mungkin belum pernah kontak dengan manusia sebelumnya, mereka tidak tampak terancam dengan kehadiran kami," ucap Slater.
Spesies kera yang dijumpai Slater adalah kera hitam (Macaca nigra). Spesies tersebut hidup di wilayah Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Status kera tersebut kini hampir punah dan masuk Daftar Merah International Union for Conservation of Nature.
Ikan Raksasa Yang Makan Buaya Ditemukan Di Kongo
Selama ini yang kita dengan bahwa buaya tidak ada yang memangsa selain manusia dan juga buaya selalu memangsa apa saja, tetapi telah ditemukan ikan raksasa pemakan buaya di Sungai Kongo, Afrika.
Selama ekspedisi penangkapan ikan di Sungai Kongo di Afrika, pemancing asal Inggris Jeremy Wade, 52 tahun berhasil menangkap ikan raksasa tigerfish Goliath.
Ikan Tigerfish Goliath dianggap sebagai salah satu ikan air tawar terbesar di dunia dan dikhawatirkan jauh lebih besar dan lebih mematikan daripada piranha. Ikan raksasa yang memiliki 32 gigi ini ukurannya sama dengan gigi hiu putih yang besar yang dapat menyerang manusia dan buaya.
Ikan pemangsa buaya ini berukuran besar. Giginya super tajam, jumlahnya ada 32. Panjang badannya 1,5 meter, beratnya sekitar 45 kilogram.
Wade menggunakan ikan patin yang besar sebagai umpan, 200-pound bar dan garis. Dia juga mengambil jarak cukup untuk menjaga keselamatan.
Dengan nyali kuat Jeremi membopong ikan yang beratnya 60 kg lebih ini memiliki panjang hingga 5 kaki. Tigerfish Goliath merupakan salah satu ikan terbuas di dunia jauh lebih buas dan besar dari Piranha dan Tench. Sayang sekali Wade tidak sempat membuat video ikan raksasa tersebut makan buaya.
Langganan:
Postingan (Atom)








